seputarborneo.news@gmail.com

082253082672

Tim SAR Evakuasi 12 Guru dari Kapal Mati Mesin di Sungai Mentaya

by Redaksi - Tanggal 04-06-2025,   jam 08:11:58
Tim SAR ketika mengevakusi 12 guru yang terjebak di Sungai Mentaya akibat perahu motor yang ditumpangi mati. (FOTO:BASARNAS) Tim SAR ketika mengevakusi 12 guru yang terjebak di Sungai Mentaya akibat perahu motor yang ditumpangi mati. (FOTO:BASARNAS)

SB, SAMPIT Sebanyak 12 orang guru berhasil dievakuasi oleh Tim SAR setelah perahu yang mereka tumpangi mengalami mati mesin di Sungai Mentaya, tepatnya di Desa Terantang, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), pada Selasa (3/6/2025) sekitar pukul 13.15 WIB.

Informasi awal diterima oleh Pos SAR Sampit dari Hari Setiawan, suami salah satu korban, yang melaporkan bahwa perahu yang digunakan para guru untuk mengajar tidak dapat melanjutkan perjalanan akibat kerusakan mesin.

Kepala Kantor SAR Palangka Raya, AA Ketut Alit Supartana, merespons cepat dengan mengerahkan satu tim Search and Rescue Unit (SRU) dari Pos SAR Sampit bersama ABK RB 305 menggunakan perahu karet cepat (RIB 01).

“Mendapatkan laporan tersebut, kami segera mengirimkan satu tim untuk melakukan evakuasi terhadap kapal dan penumpangnya,” ujar Alit.

Sebelum tim SAR tiba, para guru sempat dibantu oleh kapal wisata yang melintas di sekitar lokasi. Pada pukul 13.43 WIB, tim SAR melakukan intersep dan langsung mengevakuasi seluruh korban menuju dermaga terdekat.

Seluruh korban berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat. Berikut data 12 guru yang dievakuasi diantaranya, Nurul (41), Adi (29), Nur Aina (33), Heni (35), Ranti (41), Yani (37), Siti (35), Fitriyah (30), Lia (33), Tari (30), Rohman (34) dan Rahma (37).

“Dengan telah terevakuasinya seluruh korban, operasi SAR dinyatakan selesai dan resmi ditutup,” terang Alit.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk segera menghubungi Call Center Basarnas 115 jika mengalami situasi darurat atau membutuhkan bantuan SAR.

Perahu tersebut diketahui memang biasa digunakan para guru sebagai moda transportasi utama menuju lokasi mengajar, karena akses darat dinilai lebih sulit dan memakan waktu lebih lama. (sb)