seputarborneo.news@gmail.com

082253082672

Waspadai El Nino, BPBD Kalteng Tingkatkan Kesiapsiagaan Meski Masih Musim Hujan

by Redaksi - Tanggal 20-01-2026,   jam 06:01:28
Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kalteng, Indra Wiratama

SB, PALANGKA RAYA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Tengah meningkatkan kewaspadaan menjelang fenomena El Nino, meskipun saat ini wilayah Kalimantan Tengah masih berada dalam musim penghujan.

Kepala BPBD Provinsi Kalimantan Tengah Ahmad Toyib melalui Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kalteng, Indra Wiratama, menyampaikan bahwa berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim hujan diperkirakan masih berlangsung hingga pekan depan. Sementara itu, musim kemarau diprediksi terjadi pada Juni hingga Juli 2026.

Namun demikian, di tengah kondisi cuaca yang belum stabil, BPBD mencatat sejumlah kejadian bencana. Terhitung sejak 1 hingga 18 Januari 2026, telah terjadi 16 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa wilayah, antara lain Kabupaten Gunung Mas, Katingan, Sukamara, serta Kota Palangka Raya, dengan estimasi luasan terbakar mencapai sekitar 20 hingga 70 hektare.

Sebagai langkah antisipasi, BPBD Provinsi Kalimantan Tengah terus melakukan komunikasi dan koordinasi dengan BPBD kabupaten dan kota. Apabila suatu daerah dinilai tidak mampu menangani kejadian bencana secara mandiri, BPBD provinsi mendorong pemerintah daerah setempat untuk menetapkan status siaga, sehingga mempermudah akses sumber daya, baik dari sisi pendanaan maupun peralatan.

Indra menegaskan bahwa masyarakat diimbau untuk tidak lengah dan tidak terkecoh dengan kondisi cuaca saat ini. Berdasarkan pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya, cuaca ekstrem dapat terjadi secara tiba-tiba. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk selalu mengikuti peringatan dini BMKG serta meningkatkan kesiapsiagaan.

Dalam mendukung upaya pencegahan, BPBD Provinsi Kalimantan Tengah telah memaksimalkan penggunaan sistem peringatan dini. Salah satunya diterapkan di Kabupaten Barito Selatan, yang telah mampu memantau kondisi secara real time. Sistem ini dinilai lebih efektif dibandingkan aplikasi lain yang umumnya memiliki jeda waktu hingga 12 jam.

“Ketika terdeteksi hotspot, kami bisa langsung memastikan kondisi di lapangan. Bahkan saat api masih kecil, penanganan dapat segera dilakukan agar tidak meluas,” jelas Indra saat ditemui di Kantor Pusdalops, Jalan Tjiik Riwut Km 2,5 Palangka Raya.

Selain mendeteksi titik api, sistem peringatan dini tersebut juga mampu membaca tinggi muka air tanah dan tingkat kekeringan lahan. Mengacu pada ketentuan Kementerian Lingkungan Hidup, kondisi kekeringan yang berbahaya umumnya berada di bawah 40 sentimeter dari permukaan tanah, meskipun karakteristik setiap wilayah dapat berbeda.

Sistem ini juga dilengkapi dengan sensor pemantauan tinggi muka air sungai untuk mendeteksi potensi banjir. Di Kabupaten Barito Selatan, ketinggian muka air sempat terpantau berada di kisaran 14 sentimeter di sejumlah titik, yang telah masuk kategori waspada dan menjadi dasar peningkatan kesiapsiagaan.

Untuk memperkuat sistem peringatan dini, BPBD Provinsi Kalimantan Tengah melalui anggaran tahun 2025 telah memasang alat serupa di tiga daerah, yakni Kabupaten Barito Timur, Barito Selatan, dan Kabupaten Katingan.

Ke depan, BPBD berharap sistem peringatan dini tersebut dapat diperluas ke kabupaten dan kota lainnya guna meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi fenomena El Nino serta berbagai potensi bencana lainnya. (*)