seputarborneo.news@gmail.com

082253082672

Karhutla di Kotim Meluas, Krisis Air Bersih Terancam Lama

by Redaksi - Tanggal 27-07-2026,   jam 09:42:48
Tampak kobaran api terus membakar lahan kosong dan sampai pinggir jalan. (FOTO: ISTIMEWA) Tampak kobaran api terus membakar lahan kosong dan sampai pinggir jalan. (FOTO: ISTIMEWA)

SB, SAMPIT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus meningkat selama musim kemarau. BPBD Kotim pun mulai mewanti-wanti ancaman krisis air bersih jika kondisi cuaca kering berlangsung hingga beberapa bulan ke depan.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengungkapkan hingga 23 Juli 2026 tercatat sebanyak 559 titik panas (hotspot) dengan luas lahan terbakar mencapai sekitar 192 hektare yang tersebar di sejumlah kecamatan. Menurutnya, situasi tersebut diperkirakan masih akan berkembang karena musim kemarau diprediksi BMKG berlangsung hingga September bahkan Oktober.

"Karhutla sejak awal Juli sudah sangat terasa. Kalau kemarau terus berlanjut, tantangannya akan semakin besar," kata Multazam, Minggu (26/7/2026).

Ia menjelaskan, jika kebakaran terus meluas, pemerintah daerah harus menghadapi dilema dalam penggunaan cadangan air, yakni untuk kebutuhan pemadaman karhutla atau memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.

"Jangan sampai nanti kita dihadapkan pada pilihan antara air untuk pemadaman atau air bersih bagi masyarakat. Kami berharap karhutla bisa dikendalikan sehingga keduanya tetap dapat terpenuhi," ujarnya.

Multazam berharap perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kotim ikut membantu masyarakat melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), terutama dalam penyediaan sarana air bersih. Menurutnya, dukungan seperti sumur bor yang telah dibangun di Desa Bagendang Tengah terbukti mampu membantu warga saat musim kemarau.

Di sisi lain, BPBD juga mulai menerima laporan warga yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Salah satunya berasal dari Desa Tanah Putih, di mana sejumlah warga mulai terdampak akibat menyusutnya sumber air.

"Kalau kemarau berlangsung lebih lama, dampaknya akan semakin luas. Kelompok yang paling rentan adalah masyarakat berpenghasilan rendah, lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak," tegas Multazam.

BPBD juga mengimbau masyarakat agar menggunakan air minum isi ulang dari depot yang memenuhi standar kesehatan untuk menghindari risiko penyakit selama musim kemarau. (f1/sb)