Lewati ke konten utama
Kotawaringin Timur

Intensitas Hujan Menurun, BPBD Kotim Tingkatkan Kesiapsiagaan Karhutla

Redaksi 26-01-2026, 04:38 WIB 1 menit baca
Kebakaran hutan dan lahan di Jalan Jenderal Sudirman Sampit
Kebakaran hutan dan lahan di Jalan Jenderal Sudirman Sampit

SB, SAMPIT - Personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) bersama Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdankarmat) dikerahkan untuk memadamkan kebakaran lahan yang terjadi di dua lokasi di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

Selain itu, kebakaran lahan juga terjadi di Desa Luwuk Bunter. BPBD Kotim pun langsung berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan desa setempat untuk melakukan penanganan cepat, mengingat lokasi kebakaran cukup jauh dari pusat Kota Sampit.

“Kami lakukan koordinasi dengan pihak kecamatan dan desa karena jarak lokasi cukup jauh, sehingga penanganan harus dilakukan secepat mungkin,” ujar Kepala BPBD Kotim, Multazam, Senin (26/1/2026).

Ia menambahkan, beberapa hari sebelumnya kebakaran lahan juga terjadi di Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, dengan luasan lahan terbakar mencapai sekitar enam hektare.

Menurut Multazam, berkurangnya intensitas hujan dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan air muka tanah menurun, sehingga tingkat kerawanan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin meningkat.

“Intensitas hujan yang berkurang membuat kondisi lahan semakin kering. Ini berdampak pada meningkatnya potensi karhutla,” jelasnya.

BPBD Kotim juga mencatat mulai bermunculannya titik panas di sejumlah wilayah. Pada pemantauan terakhir, terdeteksi tujuh titik panas di dua kecamatan dengan tingkat kepercayaan mencapai angka 8, yang umumnya mengindikasikan adanya kebakaran di lokasi tersebut.

“Untuk tingkat kepercayaan delapan itu biasanya memang terjadi kebakaran di lapangan,” ungkap Multazam.

Ia mengakui kondisi saat ini mulai memprihatinkan dan membutuhkan kesiapsiagaan lebih tinggi dari seluruh pihak, seiring meningkatnya jumlah titik panas dan kejadian kebakaran lahan.

“Situasi ini perlu diwaspadai bersama karena sudah terlihat adanya peningkatan kejadian dan titik panas,” katanya.

Sepanjang Januari 2026, BPBD Kotim mencatat sedikitnya 54 titik panas. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi jika dibandingkan periode Januari pada tahun 2023 sampai 2025. (f1/SB)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard