Lewati ke konten utama
DPRD Kotawaringin Timur

Musim Karhutla, DPRD Kotim Dorong Perubahan Perilaku Warga

Redaksi 27-01-2026, 02:41 WIB 2 menit baca
Dadang Siswanto
Dadang Siswanto

SB, SAMPIT - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mulai muncul sejak awal 2026 di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tidak hanya dipandang sebagai persoalan teknis pemadaman api. Di balik setiap kepulan asap, tersimpan persoalan perilaku manusia yang perlu dibenahi bersama.

Ketua Komisi III DPRD Kotim, Dadang Siswanto, menilai pencegahan karhutla harus dimulai dari perubahan cara pandang dan kebiasaan masyarakat terhadap lingkungan.

“Karhutla ini bukan hanya soal petugas memadamkan api, tapi bagaimana kita semua mencegah api itu muncul sejak awal,” kata Dadang, Selasa (27/1/2026).

Ia menyoroti masih adanya kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar, termasuk perilaku sepele seperti membuang puntung rokok sembarangan, yang kerap dianggap tidak berbahaya.

“Kadang orang berpikir apinya kecil, cepat padam. Padahal di lahan kering dan berangin, api kecil bisa menjadi besar,” ujarnya.

Menurut Dadang, penetapan status siaga darurat karhutla oleh BPBD Kotim seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat edukasi publik, bukan sekadar meningkatkan kesiapsiagaan aparat.

“Status siaga ini harus dibarengi dengan sosialisasi masif ke masyarakat, sampai ke tingkat RT dan desa,” katanya.

Ia menilai masyarakat perlu memahami bahwa karhutla berdampak luas, bukan hanya pada lingkungan, tetapi juga kesehatan, pendidikan, dan perekonomian.

“Kalau sudah asap, yang terdampak bukan hanya satu wilayah. Sekolah terganggu, kesehatan masyarakat menurun,” ucapnya.

Dadang juga mendorong pemerintah daerah agar menggandeng tokoh masyarakat, tokoh adat, dan tokoh agama dalam menyampaikan pesan pencegahan karhutla.

“Pesan lingkungan akan lebih mudah diterima kalau disampaikan oleh figur yang dekat dengan masyarakat,” jelasnya.

Ia menilai pendekatan persuasif dan kultural sangat penting, terutama di wilayah pedesaan yang masih memiliki tradisi membuka lahan secara turun-temurun.

“Bukan langsung menyalahkan, tapi mengajak masyarakat beralih ke cara yang lebih aman,” katanya.

Selain itu, Dadang mengingatkan generasi muda agar ikut berperan aktif menjaga lingkungan dan tidak menganggap isu karhutla sebagai masalah pemerintah semata.

“Anak muda harus jadi agen perubahan, mulai dari hal kecil di lingkungan sekitar,” ujarnya.

Ia berharap dengan pendekatan edukasi yang konsisten, jumlah kejadian karhutla di Kotim dapat ditekan sebelum memasuki puncak musim kemarau.

“Kita masih punya waktu untuk mencegah sebelum dampaknya lebih luas,” kata Dadang.

Dalam konteks pengawasan, Dadang tetap menegaskan bahwa edukasi harus berjalan seiring dengan penegakan aturan.

“Edukasi iya, tapi aturan juga harus ditegakkan agar ada efek jera,” tegasnya.

Menurutnya, keseimbangan antara pendekatan humanis dan ketegasan hukum menjadi kunci keberhasilan pengendalian karhutla.

“Kalau dua ini berjalan seimbang, hasilnya akan lebih maksimal,” ucapnya.

Menutup pernyataannya, Dadang Siswanto mengajak seluruh lapisan masyarakat Kotim untuk bersama-sama menjaga lingkungan demi keselamatan bersama.

“Karhutla bisa dicegah kalau kita semua mau berubah dan peduli,” pungkasnya. (f1/SB)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard