Taman Miniatur Budaya di Sampit Memprihatinkan, Ketua DPRD Dorong Rehabilitasi Lewat CSR
SB, SAMPIT – Keberadaan Taman Miniatur Budaya di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), kini menuai perhatian serius. Kawasan yang seharusnya menjadi simbol keberagaman dan kearifan lokal berbagai suku justru tampak kurang terawat dan mengalami sejumlah kerusakan.
Ketua DPRD Kotim, Rimbun, menilai kondisi tersebut sangat memprihatinkan. Menurutnya, taman miniatur yang menampilkan rumah-rumah adat dari berbagai daerah merupakan representasi identitas budaya masyarakat Kotim.
“Kalau kita melihat kondisi taman miniatur itu sangat miris. Hampir tidak ada perhatian, padahal itu menyangkut harga diri Dayak dan keharmonisan seluruh suku di Kabupaten Kotim,” ujar Rimbun, Kamis (19/2/2026).
Ia menyebut sejumlah bangunan seperti rumah Betang, rumah Banjar, Bali, hingga Madura mengalami kerusakan, bahkan ada yang nyaris hancur. Padahal, kawasan tersebut memiliki nilai historis dan simbolik, terutama dalam menjaga keharmonisan masyarakat pasca tragedi 2001.
“Ini bagian dari wajah keharmonisan Kotim setelah peristiwa 2001. Kita sering berbicara soal menjaga budaya Dayak, tetapi aset dan kearifan lokalnya justru kurang diperhatikan. Itu yang harus kita jaga bersama,” tegasnya.
Melihat kondisi itu, DPRD berencana mengusulkan kepada Bupati Kotim agar segera memprogramkan rehabilitasi, baik perbaikan ringan, sedang, maupun berat terhadap bangunan yang rusak.
Namun, Rimbun menyadari keterbatasan anggaran daerah. Karena itu, ia mendorong agar pembenahan taman miniatur dapat disinergikan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kotim.
“Kalau hanya mengandalkan APBD tentu terbatas. Lebih baik kita arahkan program CSR perusahaan tahun ini untuk membantu rehabilitasi taman miniatur,” katanya.
Ia juga mengusulkan agar pemerintah daerah mengundang perusahaan, khususnya yang bergerak di sektor kayu dan sawit, untuk berkolaborasi dalam penyediaan material maupun dukungan teknis.
“Perusahaan kayu bisa membantu material, perusahaan sawit bisa menyesuaikan teknisnya. Yang penting tahun ini ada penyelesaian,” tandasnya.
Sebagai bentuk kepedulian pribadi, Rimbun turut menyerahkan bantuan berupa mesin rumput, racun rumput, dan alat penyemprot untuk mendukung perawatan kawasan tersebut.
“Ini bentuk kepedulian agar taman tetap terawat sambil kita dorong dinas teknis memetakan mana yang perlu rehab total dan mana yang cukup perbaikan ringan,” ungkapnya.
Ia berharap, setelah rehabilitasi rampung, pemerintah daerah dapat kembali menggelar kegiatan adat seperti mamapas lewu sebagai simbol kebersamaan dan semangat merawat keberagaman di Bumi Habaring Hurung.
Gagasan perbaikan melalui dukungan CSR tersebut juga mendapat sambutan positif dari Ketua Perajah Motanoi, yang mendukung agar pembangunan dan pembenahan taman miniatur dapat segera terealisasi demi menjaga keharmonisan dan identitas budaya masyarakat Kotim. (f1/sb)