Pasar Ramadan Taman Kota Sampit Dongkrak Ekonomi UMKM, Perputaran Uang Diperkirakan Tembus Rp 3,5 M
SB, SAMPIT – Geliat ekonomi kerakyatan mulai terasa sejak awal Ramadan 1447 Hijriah. Penyelenggaraan Pasar Ramadan di kawasan Taman Kota Sampit dinilai bukan sekadar agenda tahunan, tetapi menjadi simbol kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan pelaku usaha kecil.
Ketua DPRD Kotawaringin Timur (Kotim), Rimbun, menegaskan bazar kuliner tersebut menjadi ruang nyata bagi pelaku UMKM untuk bangkit dan berkembang di momentum bulan suci.
“Ini bukan hanya pasar musiman. Ini wujud sinergi kita semua, baik pemerintah daerah, masyarakat, hingga pedagang, untuk mendorong kesejahteraan pelaku UMKM, baik penjual makanan maupun kue tradisional,” ujar Rimbun, Senin (23/2/2026).
Pasar Ramadan yang dibuka langsung Bupati Kotim, Halikinnor, pada Kamis (19/2) itu diikuti sekitar 130 pedagang yang tersebar di dua lokasi utama.
Di kawasan Jalan S. Parman, tepatnya area parkir Taman Kota Sampit, terdapat sekitar 70 pelaku usaha. Rinciannya terdiri dari 42 pedagang kue tradisional, 17 penjual minuman segar, 8 pedagang asongan, serta 7 dealer dan distributor pangan.
Sementara itu, di Jalan Yos Sudarso, tepat di depan Swalayan UMKM dan Museum Kayu Sampit, sekitar 60 stan kuliner modern turut meramaikan suasana. Komposisinya meliputi 15 pedagang minuman, 15 penjual aneka kue, serta 30 pedagang makanan berat seperti risoles, dimsum, dan berbagai sajian favorit berbuka puasa.
Keramaian di dua titik tersebut menjadi magnet bagi warga yang berburu takjil, sekaligus membuka peluang perputaran uang yang signifikan selama Ramadan.
Berdasarkan estimasi panitia, potensi transaksi di dalam area bazar selama satu bulan Ramadan diperkirakan mencapai Rp2 miliar. Angka tersebut belum termasuk aktivitas ekonomi di luar area utama, seperti parkir dan transaksi di sekitar lokasi, yang diproyeksikan menambah sekitar Rp1 miliar.
Dari sisi pendapatan daerah, retribusi parkir, kebersihan, dan layanan lainnya ditargetkan menyumbang sekitar Rp50 juta. Secara keseluruhan, total perputaran ekonomi selama Pasar Ramadan di Sampit diperkirakan menembus angka Rp3,5 miliar.
Rimbun berharap, geliat ekonomi ini benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil yang menggantungkan pendapatan pada momen Ramadan.
“Harapan kita, ini bukan sekadar tempat berburu takjil, tetapi menjadi momentum memperkuat ekonomi rakyat dan menjaga keberlangsungan UMKM lokal di Kotim,” tandasnya. (f1/sb)