Lewati ke konten utama
Pemkab Kotawaringin Timur

Ancaman Kekeringan Bayangi Ketahanan Pangan Kotim, Dua Kecamatan Jadi Fokus Antisipasi

Redaksi 10-04-2026, 09:44 WIB 2 menit baca
Penanaman padi secara serentak di Desa Handil Sohor, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan. (FOTO:ISTIMEWA)
Penanaman padi secara serentak di Desa Handil Sohor, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan. (FOTO:ISTIMEWA)

SB, SAMPIT – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengingatkan adanya potensi ancaman serius terhadap ketahanan pangan di sejumlah wilayah sentra produksi, terutama yang rentan terdampak kekeringan saat musim kemarau tahun ini.

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Yulita, mengungkapkan bahwa dari total 17 kecamatan di Kotim, terdapat dua wilayah yang menjadi perhatian utama karena memiliki areal persawahan terluas sekaligus menyumbang produksi padi terbesar. Namun, kedua wilayah tersebut juga sangat bergantung pada ketersediaan air.

“Fokus kami saat ini tertuju pada Kecamatan Teluk Sampit dan Mentaya Hilir Selatan. Selain luas lahannya besar, produksi padinya juga tinggi, tetapi sangat rentan jika terjadi kekeringan,” ujar Yulita, Jumat (10/4/2026).

Ia merinci, Kecamatan Teluk Sampit memiliki luas lahan sawah mencapai 8.565 hektare dengan potensi produksi sekitar 36.615 ton gabah kering panen. Sementara itu, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan memiliki luas lahan sekitar 765 hektare dengan potensi produksi mencapai 287 ton.

Menurut Yulita, prediksi musim kemarau yang berpotensi lebih kering tahun ini menjadi tantangan tersendiri bagi sektor pertanian. Oleh karena itu, pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah strategis guna menjaga stabilitas produksi dan mengantisipasi dampak yang lebih luas.

“Kami melakukan dua pendekatan utama, yakni pembangunan infrastruktur sumber daya air serta penerapan teknik budidaya adaptif,” tegasnya.

Ia menjelaskan, teknik budidaya adaptif merupakan metode pertanian yang menyesuaikan pola tanam dan pengelolaan lahan dengan kondisi iklim, termasuk menghadapi potensi bencana seperti kekeringan. Pendekatan ini tidak hanya diterapkan pada tanaman pangan, tetapi juga mencakup sektor perikanan dan perkebunan agar tetap produktif di tengah cuaca ekstrem.

Di sisi lain, pembangunan infrastruktur air menjadi langkah krusial untuk menjamin ketersediaan air di lahan pertanian. Dinas mengandalkan berbagai solusi, seperti pompanisasi untuk mengalirkan air dari sumber terdekat, pembangunan sumur bor, serta pembuatan embung sebagai cadangan air saat musim kemarau.

“Pompanisasi kami sesuaikan dengan kondisi lapangan. Selain itu, sumur bor dan embung terus kami dorong sebagai upaya jangka panjang dalam menjaga pasokan air bagi petani,” jelasnya.

Tidak hanya itu, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kotim juga terus menggencarkan pembinaan dan sosialisasi kepada para petani, khususnya di wilayah sentra produksi, agar mampu menerapkan teknik budidaya adaptif secara optimal.

“Kami sudah mulai sosialisasi, tetapi implementasinya memang memerlukan waktu, komitmen, dan dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat,” pungkas Yulita. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard