Ancaman Kekeringan, BPBD Kotim Fokus Atasi Kebutuhan Air Bersih
SB, SAMPIT - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menyoroti distribusi air bersih sebagai tantangan utama di tengah upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan.
Kepala BPBD Kotim, Multazam, mengungkapkan bahwa sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) teknis telah menyusun rencana aksi penanggulangan bencana. Sebagian program sudah masuk dalam alokasi anggaran masing-masing OPD, namun masih dimungkinkan adanya kebutuhan belanja tambahan dalam kondisi darurat.
“Teman-teman OPD teknis sudah menyampaikan rencana aksi. Ada yang sudah terprogram dalam belanja masing-masing, tetapi dimungkinkan ada kebutuhan anggaran lain dalam situasi darurat,” ujar Multazam, Selasa (21/4/2026)
Ia berharap seluruh perencanaan anggaran tersebut dapat disusun secara reliabel dan akuntabel, sehingga upaya yang dilakukan benar-benar efektif dalam menangani karhutla dan kekeringan.
Menurut Multazam, persoalan paling krusial saat ini adalah ketersediaan dan distribusi air bersih, terutama di wilayah selatan Kotim.
“Yang menjadi kesulitan saat ini adalah distribusi air bersih. Ini sangat fundamental bagi masyarakat dan tidak bisa tergantikan,” tegasnya.
Ia menjelaskan, berdasarkan pengalaman beberapa tahun terakhir, cadangan air hujan di wilayah selatan umumnya hanya mampu bertahan antara 10 hingga 14 hari, tergantung kapasitas penyimpanan masing-masing rumah tangga. Kondisi ini semakin berat karena sebagian masyarakat memiliki keterbatasan ekonomi.
“Di wilayah selatan, daya tahan air hujan hanya sekitar 10 sampai 14 hari. Sementara kita pahami banyak masyarakat yang kurang mampu, ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita,” katanya.
Selain itu, dampak kekeringan juga mulai dirasakan di sejumlah wilayah seperti Parenggean, di mana debit air embung mengalami penurunan. Kondisi tersebut turut memicu keluhan masyarakat terkait kualitas air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang menjadi keruh.
BPBD pun mendorong PDAM untuk melakukan langkah tambahan guna menjaga kualitas dan distribusi air bersih. Salah satu upaya yang direncanakan adalah pemasangan hidran di wilayah Sungai Ijum guna mendukung distribusi air ke wilayah selatan, khususnya Kecamatan Teluk Sampit.
“Kami berharap PDAM melakukan upaya ekstra, termasuk rencana pemasangan hidran di Sungai Ijum agar distribusi ke wilayah selatan bisa terpenuhi dan air yang disalurkan tetap layak,” jelasnya.
Multazam menambahkan, potensi gangguan distribusi air juga diperkirakan terjadi di wilayah lain seperti Ramban dan kemungkinan merambah ke Kecamatan Baamang. Sebagai langkah antisipasi, masyarakat diimbau untuk memaksimalkan penampungan air hujan selama musim masih memungkinkan.
“Kami mengimbau masyarakat untuk memanen air hujan sebanyak mungkin agar kebutuhan air dapat tercukupi,” pungkasnya. (f1/sb)