Lewati ke konten utama
Pemkab Kotawaringin Timur

Pemkab Kotim Perkuat Kolaborasi Tekan Stunting, Target Turun ke Batas Nasional

Redaksi 22-04-2026, 01:12 WIB 2 menit baca
Pj Sekda Kotim, Umar Kaderi ketika menghadiri pembukaan kegiatan pergerakan masyarakat cegah stunting 2026. (FOTO:SEPUTAR BORNEO)
Pj Sekda Kotim, Umar Kaderi ketika menghadiri pembukaan kegiatan pergerakan masyarakat cegah stunting 2026. (FOTO:SEPUTAR BORNEO)

SB, SAMPIT - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam upaya menekan angka stunting.

Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kotim, Umar Kaderi, menegaskan bahwa edukasi dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat menjadi kunci utama dalam pencegahan stunting.

“Kita melaksanakan kegiatan pergerakan masyarakat dalam mencegah stunting. Kegiatan seperti ini memang tidak sering dilakukan, baik di kecamatan dalam kota maupun luar kota, sehingga menjadi momentum penting untuk edukasi bersama,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).

Menurut Umar, upaya pencegahan stunting tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah daerah, kecamatan, desa, hingga kader Posyandu dan PKK.

“Ini adalah bentuk kolaborasi antara sektor kesehatan dengan stakeholder terkait, mulai dari camat, lurah, kepala desa, hingga kader Posyandu. Kita berharap edukasi ini bisa memberikan pemahaman yang kuat kepada masyarakat,” jelasnya.

Ia menekankan pentingnya pemahaman mengenai 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang dimulai sejak masa kehamilan.

Stunting itu dimulai dari kandungan. Jadi asupan gizi ibu hamil harus benar-benar diperhatikan agar bayi yang dilahirkan sehat sesuai harapan kita semua.

Saat ini, angka stunting di Kotim masih tergolong tinggi, yakni sebesar 21,6 persen berdasarkan data SSGI. Angka tersebut masih di atas target nasional yang berada di kisaran 14 hingga 15 persen.

“Kita berharap melalui kegiatan ini muncul komitmen bersama dari masyarakat, camat, dan seluruh stakeholder untuk memerangi stunting. Target kita tidak hanya mencegah kasus baru, tetapi juga mengatasi kasus yang sudah ada,” tegas Umar.

Ia juga mengakui bahwa tantangan di lapangan masih cukup besar, terutama terkait rendahnya kesadaran masyarakat serta kondisi ekonomi.

“Keinginan masyarakat sebenarnya luar biasa, begitu juga dengan pihak kecamatan. Namun, pemahaman masyarakat masih kurang, ditambah kondisi ekonomi yang belum mendukung,” ungkapnya.

Untuk itu, Pemkab Kotim terus mendorong keterlibatan berbagai pihak, termasuk perusahaan melalui program tanggung jawab sosial (CSR).

“Selama ini kami sudah berkomunikasi dengan perusahaan dan desa. Mereka sudah menyisihkan dana melalui CSR dan dana desa, meskipun jumlahnya belum besar. Kita harapkan ini bisa menjadi stimulus untuk meningkatkan kesadaran hidup sehat,” katanya.

Umar menambahkan, peran perusahaan dalam pencegahan stunting cukup signifikan, meski belum terkoordinasi secara maksimal.

“Peran perusahaan sudah ada, tetapi masih terbatas di wilayah masing-masing dan belum terstruktur. Ke depan, kita akan terus mendorong agar kontribusi mereka bisa lebih maksimal,” pungkasnya. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard