seputarborneo.news@gmail.com

082253082672

MPA dan Redkar Diminta Jadi Garda Terdepan Cegah Karhutla di Kotim

by Redaksi - Tanggal 25-06-2026,   jam 01:11:27
Relawan ketika berjibaku memadamkan kobaran api yang membakar lahan kosong. (FOTO: ISTIMEWA) Relawan ketika berjibaku memadamkan kobaran api yang membakar lahan kosong. (FOTO: ISTIMEWA)

SB, SAMPIT - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) meminta Masyarakat Peduli Api (MPA) dan Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar) untuk berperan aktif sebagai garda terdepan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan dini kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Hal tersebut disampaikan Staf Ahli Bupati Kotim, Wim RK Benung, saat menekankan pentingnya keterlibatan relawan yang berada langsung di tengah masyarakat dan menjadi pihak pertama yang mengetahui potensi maupun kejadian kebakaran di wilayahnya.

“Keterlibatan MPA atau Redkar sangat dibutuhkan dalam pelayanan pencegahan dan penanggulangan dini kebakaran. Bukan hanya kebakaran pemukiman, tetapi juga ikut melakukan pencegahan dan penanggulangan karhutla,” ujar Wim, Kamis (25/6/2026).

Menurutnya, keberadaan MPA dan Redkar memiliki peran strategis dalam membantu pemerintah menekan jumlah kawasan rawan kebakaran, baik di lingkungan permukiman maupun kawasan hutan dan lahan.

Wim berharap, melalui upaya pencegahan yang dilakukan secara berkelanjutan, wilayah yang selama ini rawan kebakaran dapat berubah menjadi kawasan yang lebih aman dan tangguh terhadap bencana.

Selain itu, para relawan juga didorong untuk terus meningkatkan kapasitas dan keterampilan dalam menghadapi berbagai situasi kebakaran. Menurutnya, semangat pengabdian saja tidak cukup tanpa didukung kemampuan teknis yang memadai.

“Relawan tetap harus memiliki bekal pengetahuan serta keterampilan yang memadai dan mumpuni. Hal itu berguna dalam kegiatan pencegahan dan penanggulangan dini karhutla maupun kebakaran bangunan yang bisa terjadi kapan saja,” tegasnya.

Pemkab Kotim juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat sinergi dalam upaya mitigasi bencana. Pencegahan karhutla, lanjut Wim, tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri, melainkan memerlukan keterlibatan aktif masyarakat hingga ke tingkat desa.

“Kita berharap pemahaman masyarakat tentang mitigasi bencana karhutla bisa ditingkatkan, sehingga risiko dan dampak yang ditimbulkan dapat diminimalkan,” pungkasnya. (f1/sb)