93 BTS di Lamandau Diduga Tanpa Genset dan Baterai Cadangan, Mati Lampu Terdampak Sinyal Komunikasi
SB, NANGA BULIK– Setiap kali pemadaman listrik bergilir terjadi di Kabupaten Lamandau, masyarakat kembali dihadapkan pada persoalan yang sama, yakni gangguan hilangnya sinyal telepon seluler dan internet. Kondisi ini dinilai sangat merugikan karena menghambat komunikasi, aktivitas kerja, pembelajaran hingga transaksi digital.
Kepala Bidang Pengelolaan Infrastruktur dan Ekosistem TIK Diskominfostandi Lamandau, Kariadi, saat di jumpai oleh awak media di ruang kerjanya mengatakan Berdasarkan data sebaran Base Transceiver Station (BTS) di Kabupaten Lamandau tahun 2026, terdapat 93 BTS yang tersebar di delapan kecamatan, terdiri dari Kecamatan Bulik 28 BTS, Sematu Jaya 10 BTS, Menthobi Raya 11 BTS, Delang 10 BTS, Belantikan Raya 8 BTS, Lamandau 12 BTS, Bulik Timur 10 BTS, dan Batang Kawa 4 BTS.
Namun, sebagian besar BTS tersebut diduga belum dilengkapi baterai cadangan maupun genset yang memadai. Akibatnya, saat pasokan listrik dari PLN terputus, layanan telekomunikasi juga ikut terganggu.
Kepala Bidang Pengelolaan Infrastruktur dan Ekosistem TIK Diskominfostandi Lamandau juga, mengatakan operator telekomunikasi seharusnya memiliki sistem cadangan daya yang mampu menjaga layanan tetap berjalan ketika terjadi pemadaman listrik.
"Seharusnya operator telekomunikasi memiliki sistem cadangan daya yang lebih siap. Tower jaringan mestinya tetap dapat beroperasi beberapa jam atau bahkan lebih lama ketika listrik PLN mengalami gangguan. Kehadiran baterai cadangan atau genset bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan penting agar masyarakat tetap terhubung di situasi darurat," ujarnya.
Menurut Kariadi, penyebab utama hilangnya sinyal saat listrik padam adalah minimnya fasilitas cadangan daya pada BTS.
"Mengapa setiap kali terjadi pemadaman listrik bergilir, sinyal telepon dan internet dari provider juga ikut hilang, Penyebabnya adalah tidak tersedianya baterai cadangan atau genset di masing-masing BTS yang ada di Kabupaten Lamandau," tegasnya.
Keluhan serupa juga terus disampaikan masyarakat. Mereka menilai seharusnya pemadaman listrik tidak otomatis membuat jaringan telekomunikasi ikut lumpuh, karena BTS idealnya telah dibekali sistem kelistrikan cadangan.
"Mati lampu mungkin masih bisa ditahan. Namun ketika jaringan juga ikut mati, masyarakat bukan hanya kehilangan cahaya, tetapi juga kehilangan akses komunikasi dan informasi. Di era digital seperti sekarang, kondisi ini menjadi persoalan yang jauh lebih besar," tambah Kariadi.
Masyarakat berharap seluruh operator seluler segera melakukan evaluasi terhadap kondisi BTS di Lamandau dengan melengkapi baterai cadangan maupun genset sesuai kebutuhan.
Langkah tersebut dinilai penting agar layanan telekomunikasi tetap berfungsi saat terjadi pemadaman listrik, terutama pada kondisi darurat yang membutuhkan akses komunikasi secara cepat dan andal.(BY/SB)