Lewati ke konten utama
NASIONAL

OJK Dorong Generasi Muda Banten Melek Finansial, Waspada FOMO dan Kejahatan Digital

Redaksi 09-09-2026, 14:09 WIB 5 menit baca
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku, Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku, Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono

SB, SEMARANG - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong generasi muda di Banten untuk semakin cakap mengelola keuangan, memahami investasi, sekaligus waspada terhadap berbagai risiko kejahatan keuangan digital.

Pesan tersebut mengemuka dalam program Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT) bertema “Money Moves: Invest Today, Build Your Future” yang digelar di Convention Hall UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Selasa (8/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi OJK bersama pemangku kepentingan untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan mengenai pentingnya menabung, berinvestasi secara bijak, menggunakan layanan keuangan digital dengan aman, serta mengelola keuangan secara mandiri demi membangun masa depan finansial yang lebih sehat.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku, Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, mengatakan generasi muda merupakan kelompok yang sangat dekat dengan perkembangan teknologi digital. Namun, kedekatan dengan teknologi tidak serta-merta membuat seseorang memiliki kecakapan finansial yang memadai.

Menurut Dicky, semakin mudah masyarakat mengakses produk dan layanan keuangan, semakin besar pula kebutuhan untuk memahami risiko serta meningkatkan kualitas pengambilan keputusan.

“Ketika semakin banyak produk keuangan yang ditawarkan kepada masyarakat, maka diperlukan kemampuan untuk mengambil keputusan yang sadar dan bertanggung jawab,” ujar Dicky.

Ia mengingatkan generasi muda agar mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan serta mulai membangun kebiasaan investasi sejak dini.

Dicky merangkum langkah pengelolaan keuangan melalui tiga kata kunci, yakni kelola, lindungi, dan tumbuhkan.

“Kelola uang kita sebelum uang mengendalikan pilihan kita. Lindungi apa yang sudah kita miliki dengan selalu ingat legal dan logis, serta tumbuhkan semuanya dengan tujuan yang jelas,” katanya.

Menurutnya, literasi keuangan juga menjadi salah satu bekal penting agar generasi muda tidak mudah terjebak dalam Fear of Missing Out (FOMO) maupun Fear of Other People’s Opinions (FOPO) ketika mengambil keputusan finansial.

Gubernur Banten Andra Soni menilai penguatan literasi keuangan bagi generasi muda tidak cukup hanya untuk mempersiapkan mereka memasuki dunia kerja.

Lebih dari itu, generasi muda perlu memiliki kemampuan mengelola penghasilan, membangun usaha, berinvestasi, hingga melindungi diri dari berbagai bentuk kejahatan keuangan.

“Pemerintah Provinsi Banten berharap sinergi OJK Provinsi Banten melalui berbagai program literasi keuangan dapat membangun generasi muda Banten yang bukan hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga siap mengelola penghasilan, membangun usaha, berinvestasi, menjaga dirinya dari kejahatan keuangan, dan akhirnya menjadi kekuatan ekonomi baru bagi Banten,” ujar Andra Soni.

Ia mengatakan perkembangan teknologi digital harus diimbangi dengan pengetahuan, kehati-hatian, serta kemampuan mengambil keputusan yang tepat.

Hal itu dinilai penting karena modus kejahatan keuangan digital semakin beragam. Mulai dari phishing, penyamaran sebagai petugas lembaga keuangan, tautan palsu, akun media sosial palsu, investasi ilegal, pinjaman online ilegal, hingga berbagai modus yang memanfaatkan rekayasa sosial.

Peringatan serupa disampaikan Anggota Komisi XI DPR RI Annisa M. A. Mahesa. Ia meminta generasi muda tidak mengambil keputusan investasi secara impulsif hanya karena mengikuti tren atau rekomendasi yang beredar di media sosial.

Menurut Annisa, fondasi pengelolaan keuangan harus dibangun terlebih dahulu sebelum seseorang memutuskan berinvestasi atau menggunakan produk keuangan lainnya.

“Gen Z, kita-kita ini semua, teman-teman, adalah generasi yang sangat rentan terhadap masalah-masalah di keuangan. Contoh FOMO, kita ini sangat rentan terhadap pengambilan keputusan investasi yang impulsif karena mau ikut-ikutan. Belum lagi, kita ini juga sangat rentan terhadap aktivitas ilegal,” kata Annisa.

Ia menyebut sejumlah hal yang perlu diperhatikan generasi muda, antara lain memiliki dana darurat, menerapkan manajemen keuangan yang baik, menghindari utang konsumtif, serta memahami kebutuhan dan kondisi finansial pribadi sebelum berinvestasi.

Annisa juga mengingatkan agar investasi dilakukan menggunakan uang dingin, bukan dana yang masih dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Selain itu, generasi muda diminta memperoleh informasi mengenai sektor jasa keuangan dari sumber yang kredibel dan tervalidasi, bukan sekadar mengikuti rekomendasi dari media sosial.

Pentingnya edukasi tersebut semakin terlihat dari hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang diselenggarakan OJK bersama Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Badan Pusat Statistik (BPS).

Dalam survei tersebut, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia tercatat 69,57 persen, sementara indeks inklusi keuangan mencapai 93,61 persen.

Data itu menunjukkan akses masyarakat terhadap produk dan layanan jasa keuangan semakin luas. Namun, masih terdapat tantangan dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan perilaku masyarakat dalam menggunakan produk keuangan secara tepat.

Tantangan tersebut juga terlihat pada kelompok pelajar dan mahasiswa.

SNLIK 2026 mencatat indeks literasi keuangan kelompok pelajar/mahasiswa sebesar 62,72 persen, lebih rendah dibandingkan indeks literasi keuangan nasional yang mencapai 69,57 persen.

Sementara itu, indeks inklusi keuangan kelompok pelajar/mahasiswa mencapai 92,76 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara akses dan kecakapan. Artinya, semakin luas akses generasi muda terhadap produk dan layanan keuangan perlu diiringi dengan kemampuan untuk menggunakannya secara tepat, aman, dan bertanggung jawab.

Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Muhammad Ishom menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan edukasi keuangan tersebut.

Menurutnya, penguatan literasi keuangan menjadi semakin penting bagi mahasiswa di tengah semakin luasnya akses terhadap berbagai produk dan layanan keuangan.

Ia berharap edukasi yang diberikan OJK dapat meningkatkan pemahaman sekaligus kecakapan mahasiswa dalam mengelola keuangan.

Kegiatan LIKE IT di Kota Serang merupakan LIKE IT Series #6 tahun 2026. Program tersebut telah dilaksanakan sejak 2021 dan merupakan kolaborasi antara Kementerian Keuangan RI, Bank Indonesia, OJK, dan Lembaga Penjamin Simpanan.

Kegiatan di Serang diikuti sekitar 1.000 mahasiswa dari civitas academica UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten serta perwakilan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Banten, yakni Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Universitas Banten Jaya, Universitas Bina Bangsa, Universitas Serang Raya, dan Universitas Pamulang Serang.

Selain peserta yang hadir secara langsung, sebanyak 2.473 mahasiswa dan masyarakat umum mengikuti kegiatan tersebut secara daring melalui live streaming YouTube Otoritas Jasa Keuangan.

Melalui LIKE IT 2026, OJK bersama seluruh pemangku kepentingan mengajak generasi muda Banten membangun perilaku keuangan yang sehat sejak dini.

Generasi muda juga didorong untuk mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tepat, memahami risiko sebelum menggunakan produk keuangan, serta menjadikan kecakapan finansial sebagai bagian dari gaya hidup.

Dengan bekal literasi keuangan yang semakin kuat, generasi muda diharapkan mampu membangun masa depan finansialnya secara mandiri sekaligus berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045. (sb/*)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard