Lewati ke konten utama
Pemkab Kotawaringin Timur

Karhutla Belum Mereda, Pemkab Kotim Perpanjang Status Tanggap Darurat

Redaksi 14-09-2026, 18:53 WIB 2 menit baca
Pemkab Kotim melaksanakan rapat koordinasi tentang status tanggap darurat. (FOTO: SEPUTAR BORNEO)
Pemkab Kotim melaksanakan rapat koordinasi tentang status tanggap darurat. (FOTO: SEPUTAR BORNEO)

SB, SAMPIT - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) memperpanjang status tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga 30 September 2026. Perpanjangan dilakukan karena hingga kini masih ditemukan titik api serta sejumlah lokasi yang membutuhkan penanganan dan pendinginan.

Bupati Kotim Halikinnor mengatakan, perpanjangan status tanggap darurat dilakukan untuk memastikan penanganan karhutla dapat terus berjalan dengan melibatkan seluruh unsur.

“Apa yang sudah kita lakukan, mulai dari siaga kita tingkatkan menjadi tanggap dan kita perpanjang lagi sampai 30 September selama 15 hari,” kata Halikinnor, Senin (14/9/2026).

Menurutnya, selain munculnya titik api baru, petugas juga masih menghadapi banyak lokasi bekas kebakaran yang membutuhkan pendinginan karena masih mengeluarkan asap.

“Sampai saat ini ternyata masih muncul titik-titik api dan yang juga banyak itu pendinginan. Itu pendinginan terhadap bekas titik api yang masih ada asap,” ujarnya.

Halikinnor menyebut penanganan karhutla melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, TNI, Polri hingga perusahaan. Bantuan sarana pemadaman juga terus dioptimalkan, termasuk bantuan pemerintah pusat berupa 10 unit tangki.

Namun, luas wilayah Kotim membuat kebutuhan sarana dan prasarana pemadaman masih cukup besar. Pemkab juga melakukan evaluasi terhadap teknik pemadaman, termasuk kemungkinan menggunakan sistem estafet dengan memanfaatkan embung portable untuk menjangkau lokasi yang jauh dari sumber air.

“Kita juga mempelajari bagaimana teknik pemadamannya. Mungkin selama ini sudah kita lakukan, kita evaluasi. Siapa tahu ke depan dengan cara tadi, kita sudah mencoba misalnya yang jarak jauh dari titik api, mungkin dengan sistem estafet dengan embung portable,” jelasnya.

Ia menegaskan, pemerintah akan memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana yang masih kurang sepanjang berkaitan dengan penanganan karhutla.

“Apapun kita akan lakukan, termasuk pengadaan sarana-prasarana. Kekurangan apa saja yang bisa langsung kita pengadaan, kita pengadaan,” tegas Halikinnor.

Berdasarkan laporan terbaru, jumlah titik api di Kotim mencapai 33 titik, dengan sembilan di antaranya masih belum tertangani.

“Kita bersyukur sekali karena kita ada batalion. Anggota batalion masih muda-muda, mereka masih sigap, masih kuat. Tapi kendalanya pertama sarana-sarana, sebenarnya tangki untuk penyuplainya,” ungkapnya.

Menurut Halikinnor, kendala utama dalam pemadaman saat ini adalah ketersediaan air. Kondisi kemarau membuat banyak parit dan sumber air mengering. 

Sejumlah sumur bor yang dibangun Kodim memang telah membantu, namun kebutuhan peralatan pendukung seperti Alkon masih tinggi.

“Karena kendala kita utamanya air. Karena ini semua kering, semua parit-parit juga kering. Alhamdulillah Kodim sudah banyak membuat sumur-sumur bor yang berfungsi. Tapi tadi kita membutuhkan Alkon,” katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Pemkab bahkan akan mencari peralatan hingga ke luar daerah apabila stok di wilayah terdekat tidak tersedia.

“Makanya saya perintahkan kalau habis ini pesan ke Banjarmasin. Tadi Banjarmasin cari Surabaya. Kalau tidak ada di Surabaya, pesan ke Cina,” tegasnya. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard