Lewati ke konten utama
Pemprov Kalteng

Stok Beras Kalteng 16 Ton, Kebutuhan Masyarakat Dipastikan Aman

Redaksi 14-09-2026, 18:38 WIB 1 menit baca
Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Kalteng, Yuas Elko menghadiri rapat masalah stok pangan. (FOTO: ISTIMEWA)
Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Kalteng, Yuas Elko menghadiri rapat masalah stok pangan. (FOTO: ISTIMEWA)

SB, PALANGKA RAYA – Stok beras di Kalimantan Tengah (Kalteng) dipastikan aman. Saat ini, persediaan beras mencapai sekitar 16 ribu ton dan dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Staf Ahli Gubernur Kalteng Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Yuas Elko, mengatakan stok tersebut masih mampu menjaga kebutuhan beras masyarakat di tengah kondisi harga pangan yang terus dipantau pemerintah.

“Stok beras kita sampai saat ini aman. Ada sekitar 16 ribu ton dan itu cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” kata Yuas seusai mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi bersama Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) di Ruang Bajakah, Kompleks Kantor Gubernur Kalteng, Senin (14/9/2026).

Menurut Yuas, kondisi harga komoditas di Kalteng juga menunjukkan perkembangan positif. Indeks Perkembangan Harga (IPH) tercatat turun 0,9 persen.

“Kalteng memang masuk daerah dengan inflasi tertinggi di Indonesia. Tapi kita beruntung karena IPH kita rendah, berada di urutan ke-11 terendah secara nasional,” ujarnya.

Penurunan IPH membuat sejumlah komoditas pangan di Kalteng tidak menjadi sorotan utama secara nasional. Beberapa di antaranya adalah beras, daging ayam, dan telur.

Yuas berharap kondisi tersebut dapat terus terjaga sehingga tidak menekan daya beli dan kebutuhan masyarakat.

“Mudah-mudahan IPH kita yang rendah ini tidak berdampak besar terhadap kehidupan masyarakat ke depan,” katanya.

Di sisi lain, pemerintah daerah tetap diminta tidak menunggu harga naik untuk mengambil langkah pengendalian.

Sekretaris Jenderal Kemendagri Komjen Pol Tomsi Tohir menegaskan setiap daerah harus memahami pola konsumsi masyarakat dan memantau harga sejak awal.

“Sebelum naik kita sudah berupaya. Jangan tunggu naik, karena kalau sudah naik, menurunkannya lebih sulit,” tegas Tomsi. (sb/*)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard