SMAN 2 Sampit Berinovasi Manfaatkan Air Gambut jadi Listrik
SB, SAMPIT – Siapa sangka air gambut yang selama ini dikenal berwarna cokelat kemerahan dan memiliki tingkat keasaman tinggi bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik. Potensi itulah yang sejak beberapa tahun terakhir terus dieksplorasi oleh guru dan siswa SMA Negeri 2 Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.
Melalui prototipe Pembangkit Listrik Tenaga Air Gambut (PLTAG), tim peneliti SMAN 2 Sampit mencoba mengubah potensi alam yang melimpah di Kalimantan tersebut menjadi sumber energi alternatif.
Teknologi yang dikembangkan memanfaatkan reaksi elektrokimia antara lempeng seng dan tembaga yang ditempatkan dalam air gambut. Dari proses tersebut dihasilkan energi listrik yang kemudian dapat digunakan untuk menyalakan lampu.
Penelitian PLTAG bukan inovasi yang baru dimulai. Guru pembina SMAN 2 Sampit, Anwar Muttaqien, mengatakan penelitian tersebut telah dirintis sejak 2017.
Awalnya, penelitian dilakukan dengan cara yang sangat sederhana. Tim menggunakan wadah bekas botol air mineral sebagai tempat air gambut. Lempeng seng dan tembaga kemudian dipasang untuk melihat apakah air gambut dapat menghasilkan listrik.
“Awalnya kami menggunakan wadah sederhana dari botol bekas dan air gambut. Dari situ kami mencoba menyalakan lampu dengan tegangan rendah,” kata Anwar, Selasa (15/9/2026).
Hasil percobaan awal tersebut kemudian mendorong tim untuk melakukan pengembangan. Jumlah sel ditambah dan berbagai bentuk rangkaian mulai diuji untuk mendapatkan tegangan yang lebih besar.
“Setelah percobaan awal berhasil, kami terus mengembangkan jumlah sel. Kami mencoba berbagai susunan supaya hasil listriknya semakin besar, tetapi tetap memperhatikan efisiensi,” jelasnya.
Dalam proses pengembangan, tim menemukan bahwa posisi dan jarak antara lempeng seng dan tembaga turut memengaruhi hasil listrik yang diperoleh.
Tim kemudian melakukan berbagai percobaan dengan mengubah jarak kedua lempeng. Hasilnya, konfigurasi dengan jarak yang lebih dekat mampu menghasilkan tegangan lebih tinggi dibandingkan beberapa konfigurasi sebelumnya.
“Jarak antara seng dan tembaga kami coba ubah-ubah. Dari percobaan yang dilakukan, ketika dibuat lebih dekat, hasil tegangannya bisa lebih tinggi,” ujar Anwar.
Tidak berhenti pada jarak, penelitian juga dilakukan terhadap ukuran, bentuk, ketebalan, jenis material hingga jumlah sel. Semua variabel tersebut diuji untuk mencari kombinasi yang menghasilkan listrik secara optimal.
Air gambut yang digunakan dalam pengujian memiliki tingkat keasaman sekitar pH 3 hingga 4. Dari pengembangan yang dilakukan, prototipe PLTAG saat ini sudah mampu menghasilkan listrik untuk menyalakan lampu 12 volt.
“Sekarang prototipenya sudah bisa menyalakan lampu 12 volt dengan menggunakan air gambut. Tetapi penelitian masih terus berjalan karena kami ingin mencari hasil yang lebih efektif dan efisien,” katanya.
Menurut Anwar, salah satu tantangan terbesar bukan hanya meningkatkan tegangan, tetapi juga membuat alat tersebut lebih praktis. Penggunaan sel dalam jumlah banyak memang dapat meningkatkan hasil listrik, namun konsekuensinya alat menjadi lebih besar dan membutuhkan biaya lebih banyak.
Karena itu, penelitian kini diarahkan untuk mendapatkan tegangan yang lebih tinggi dengan jumlah sel yang lebih sedikit. Anwar melihat pengembangan PLTAG memiliki peluang menarik untuk terus diteliti. Kalimantan dikenal memiliki kawasan gambut yang luas sehingga ketersediaan bahan utama berupa air gambut relatif mudah ditemukan.
“Air gambut ini melimpah di daerah kita. Potensinya cukup besar untuk diteliti sebagai salah satu sumber energi alternatif,” katanya.
Ia menambahkan, inovasi tersebut juga menjadi bagian dari upaya sekolah mendorong siswa agar mampu melihat persoalan di lingkungan sekitar sebagai peluang untuk menghasilkan teknologi.
“Yang kami harapkan bukan hanya menghasilkan sebuah alat, tetapi anak-anak bisa melihat potensi yang ada di daerahnya sendiri dan mencoba mencari solusi atau manfaat dari potensi tersebut,” tuturnya.
Pengembangan PLTAG melibatkan Research Club Dian Buwana SMAN 2 Sampit. Kelompok penelitian tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk terlibat langsung dalam proses eksperimen, mulai dari merancang alat, melakukan pengujian hingga mengevaluasi hasil.
Bagi sekolah, proses tersebut sama pentingnya dengan hasil akhir penelitian. Siswa belajar bahwa sebuah inovasi tidak selalu langsung berhasil dalam percobaan pertama. Salah satu siswa yang terlibat dalam penelitian, Abdullah, mengatakan PLTAG yang saat ini dikembangkan merupakan hasil dari beberapa generasi penelitian.
Pada generasi pertama, alat masih menggunakan media yang sangat sederhana. Setelah dilakukan evaluasi, jumlah sel kemudian ditambah untuk meningkatkan tegangan.
“Kami mencoba berbagai rangkaian. Awalnya sekitar 45 sel, kemudian dikembangkan menjadi sekitar 100 sel. Dari situ kami melihat bagaimana susunan sel memengaruhi hasil yang didapat,” kata Abdullah.
Namun, penambahan jumlah sel ternyata juga menimbulkan persoalan. Alat membutuhkan ruang lebih besar dan biaya pembuatan meningkat.
“Kami memang mendapatkan hasil yang lebih besar dengan jumlah sel yang banyak, tetapi dari sisi efisiensi masih kurang. Tempat yang dibutuhkan lebih besar dan biaya juga bertambah,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat tim kembali melakukan eksperimen. Mereka mencoba berbagai rangkaian dengan tujuan mendapatkan hasil listrik yang lebih tinggi tanpa harus menggunakan sel dalam jumlah terlalu banyak.
“Kami mencoba mencari bagaimana dengan jumlah sel yang lebih sedikit tetapi hasil tegangannya tetap bisa tinggi,” kata Abdullah.
Bagi Abdullah dan rekan-rekannya, penelitian PLTAG memiliki daya tarik tersendiri karena bahan yang digunakan berasal dari lingkungan sekitar. Menurutnya, air gambut merupakan salah satu potensi alam yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Kalimantan.
“Air gambut merupakan salah satu kekayaan yang melimpah di Kalimantan. Kami sebagai anak daerah tertarik untuk memanfaatkannya agar bisa memberikan manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.
Ia mengatakan penelitian tersebut sekaligus memberikan pengalaman bagi siswa untuk memahami bahwa inovasi teknologi tidak selalu harus menggunakan bahan yang mahal atau teknologi yang rumit. Dengan memanfaatkan potensi lokal, siswa justru dapat mengembangkan teknologi yang sesuai dengan karakteristik daerah.
Penelitian PLTAG kini memasuki tahap pengembangan berikutnya. Salah satu fokus yang sedang dilakukan adalah mencari jenis dan material seng yang paling sesuai untuk menghasilkan listrik.
Tim ingin mengetahui material seperti apa yang mampu memberikan reaksi lebih optimal ketika digunakan bersama air gambut.
“Kami sekarang masih mencoba mencari jenis seng yang paling sesuai. Harapannya dengan material yang lebih tepat, tegangan yang dihasilkan bisa lebih tinggi dan jumlah sel yang digunakan bisa lebih sedikit,” jelas Abdullah.
Eksperimen tersebut menjadi bagian dari upaya panjang untuk menyempurnakan PLTAG. Setiap hasil pengujian digunakan sebagai bahan evaluasi untuk menentukan desain berikutnya.
Sekolah pun berharap penelitian tersebut tidak berhenti sebagai prototipe atau sekadar proyek siswa dalam kegiatan penelitian.
Anwar mengatakan pengembangan teknologi membutuhkan proses panjang, sehingga hasil penelitian saat ini masih akan terus disempurnakan.
“Ini masih prototipe dan masih banyak yang harus dikembangkan. Kami ingin terus mencari desain yang lebih efektif, efisien dan mudah diterapkan,” katanya.
Jika pengembangan berhasil dilakukan secara berkelanjutan, PLTAG berpotensi menjadi contoh bagaimana potensi lokal dapat diolah menjadi sebuah inovasi energi alternatif.
Bagi SMAN 2 Sampit, penelitian ini bukan sekadar tentang menghasilkan listrik dari air gambut. Lebih dari itu, PLTAG menjadi sarana bagi siswa untuk belajar meneliti, bereksperimen dan menemukan solusi dengan memanfaatkan kekayaan alam yang ada di daerah sendiri.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan dan mengembangkan teknologi berdasarkan potensi yang ada di lingkungan mereka,” pungkas Anwar. (f1/sb)