Lewati ke konten utama
Provinsi

Raja Juli Sebut Karhutla di Kalteng 99 Persen Disebabkan Ulah Manusia

Redaksi 17-10-2026, 20:14 WIB 1 menit baca
Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni ketika berkunjung ke Sampit. (FOTO: SEPUTAR BORNEO)
Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni ketika berkunjung ke Sampit. (FOTO: SEPUTAR BORNEO)

SB, SAMPIT - Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Raja Juli Antoni, menegaskan bahwa sekitar 99 persen kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) disebabkan oleh aktivitas manusia.

Karena itu, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran, baik perorangan maupun korporasi, menjadi salah satu langkah penting dalam penanganan karhutla di Kalimantan Tengah, khususnya Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Hal tersebut disampaikan Raja Juli Antoni saat berkunjung ke Sampit, Kabupaten Kotim, Sabtu (17/10/2026) malam.

Ia menjelaskan, kebakaran dapat terjadi akibat aktivitas masyarakat yang membuka lahan dengan cara membakar tanpa mampu mengendalikan api, maupun praktik serupa yang dilakukan oleh perusahaan.

“Oleh karena itu, penegakan hukum menjadi penting. Pak Kapolri kemarin sudah mengumumkan beberapa perusahaan yang dijadikan tersangka, begitu juga individu. Dari Kementerian Kehutanan, ada 26 perusahaan yang izinnya sudah kami cabut dan bekukan,” ujarnya.

Raja Juli Antoni mengatakan, jumlah perusahaan yang dikenai sanksi tersebut berpotensi bertambah termasuk di Kalteng.

Pihaknya masih menerima laporan mengenai sekitar lima hingga enam perusahaan lain yang diduga melakukan pelanggaran, termasuk di Kalimantan Tengah (Kalteng).

Ia menegaskan, pemerintah tidak akan berkompromi terhadap pelaku karhutla. Penegakan hukum harus berlaku adil, baik terhadap masyarakat maupun perusahaan besar.

“Pak Presiden mengatakan keadilan harus ditegakkan. Tidak hanya kepada yang kecil, tetapi juga kepada yang besar. Jangan hanya tajam ke bawah, tetapi juga harus tajam ke atas. Insyaallah, kita akan menegakkan hukum dengan baik,” tegasnya.

Selain penegakan hukum, pemerintah juga mengoptimalkan penanganan karhutla melalui operasi udara dan darat. 

Untuk operasi udara, upaya yang disiapkan meliputi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), penggunaan dry ice sebagai bagian dari upaya modifikasi cuaca, serta water bombing atau pemadaman menggunakan bom air.

Menurutnya, apabila kondisi awan memungkinkan setelah dilakukan upaya modifikasi cuaca, empat pesawat yang saat ini belum dapat beroperasi di bandara Sampit diharapkan bisa kembali menjalankan tugasnya. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard