Dana Porprov Kotim Dinilai Tak Cukup, 33 Cabor Terancam Tak Terakomodasi
SB, SAMPIT – Anggaran Rp3 miliar yang disiapkan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) untuk mendukung keikutsertaan atlet pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) dinilai belum mampu membiayai seluruh cabang olahraga (cabor) yang direncanakan bertanding. Dengan sekitar 33 cabor yang akan diikuti, KONI Kotim harus menghitung ulang kebutuhan dan menentukan prioritas keberangkatan atlet.
Anggota Komisi III DPRD Kotim, Syahbana, mengungkapkan keterbatasan anggaran tersebut sebenarnya sudah menjadi perhatian saat pembahasan bersama Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kotim. Kala itu, kedua pihak menyepakati alokasi Rp3 miliar, meskipun dana tersebut diperkirakan tidak mencukupi seluruh kebutuhan kontingen.
“Pada saat pembahasan kemarin, menyepakati anggaran tersebut Rp3 miliar. Namun, kalau berbicara cukup atau tidak, memang sudah disampaikan bahwa anggaran tersebut tidak cukup untuk membiayai semua cabang olahraga,” ujar Syahbana, Sabtu (17/10/2026).
Menurutnya, persoalan anggaran bukan sekadar biaya keberangkatan atlet. Dana juga dibutuhkan untuk membiayai tahapan persiapan, seleksi, dan berbagai kebutuhan teknis lainnya sebelum kontingen berlaga di ajang olahraga tingkat provinsi tersebut. Bahkan, sebagian anggaran yang tersedia disebut telah digunakan untuk keperluan persiapan dan seleksi.
Syahbana menjelaskan, upaya membahas kemungkinan penambahan anggaran sebelumnya telah dilakukan. Namun, terdapat kendala regulasi terkait pengajuan proposal dana hibah yang menjadi dasar penganggaran kegiatan. Akibatnya, alokasi Rp3 miliar tetap menjadi batas anggaran yang harus disiasati oleh pihak terkait.
“Kalau seluruh cabang olahraga diberangkatkan, kebutuhan dananya diperkirakan jauh melampaui anggaran yang tersedia,” jelasnya.
Di tengah keterbatasan tersebut, Syahbana mengaku menerima informasi bahwa sejumlah cabor berencana mengikuti pertandingan menggunakan biaya mandiri. Opsi ini muncul karena anggaran yang tersedia belum mampu mengakomodasi seluruh kebutuhan kontingen. Namun, skema tersebut tentu perlu diperjelas agar tidak menimbulkan persoalan bagi atlet maupun pengurus cabor.
Ia pun meminta KONI Kotim mengambil keputusan secara selektif dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah dan peluang prestasi setiap cabang olahraga. Menurutnya, prioritas perlu diberikan kepada cabor yang memiliki peluang meraih medali emas atau mempertahankan prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
“Kami berharap KONI bisa selektif dalam menentukan cabang olahraga yang diberangkatkan, sesuai dengan kemampuan anggaran yang tersedia. Tidak semua cabang olahraga bisa diikuti. KONI yang lebih mengetahui cabang mana yang berpotensi mempertahankan atau meraih medali emas sehingga bisa diprioritaskan untuk dikirim,” tegasnya.
Terkait kabar penundaan pelaksanaan Porprov, Syahbana mengaku telah mengetahui informasi tersebut. Namun, ia belum dapat memastikan bagaimana dampaknya terhadap penggunaan anggaran Rp3 miliar, termasuk berapa dana yang sudah terserap untuk persiapan kontingen.
Untuk memastikan hal itu, ia meminta agar penggunaan anggaran dan perkembangan persiapan dikonfirmasi kepada KONI serta Dispora Kotim sebagai pihak yang menangani pelaksanaan kegiatan.
Dengan anggaran yang terbatas dan puluhan cabor yang direncanakan bertanding, keputusan mengenai komposisi kontingen menjadi penting. Pemerintah daerah bersama KONI dan Dispora perlu memastikan alokasi dana digunakan secara tepat, sekaligus memberi kesempatan kepada atlet yang memiliki potensi prestasi untuk membawa nama Kotim di Porprov. (f1/sb)