Lewati ke konten utama
Provinsi

Menhut Sebut Kalimatan Tidak Baik-baik Saja, Mana Solusi Nyata?

Redaksi 18-10-2026, 09:15 WIB 3 menit baca
Menhub RI, Raja Juli Antoni ketika berkunjung ke Kotim. (FOTO: SEPUTAR BORNEO)
Menhub RI, Raja Juli Antoni ketika berkunjung ke Kotim. (FOTO: SEPUTAR BORNEO)

SB, SAMPIT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menghantui Kalimantan Tengah (Kalteng), sementara hujan alami diprediksi belum turun merata hingga November 2026. Di tengah ancaman kabut asap dan gangguan kesehatan masyarakat, pengakuan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bahwa kondisi Kalimantan sedang tidak baik-baik saja memunculkan pertanyaan: seberapa efektif langkah pemerintah untuk mengatasi bencana ini?

Pernyataan itu disampaikan Raja Juli saat berkunjung ke Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Sabtu (17/10/2026) malam. Setelah tujuh hari mengunjungi sejumlah wilayah di Kalimantan, ia mengakui penanganan karhutla masih menghadapi tantangan besar akibat minimnya curah hujan.

“Dari semua yang saya kunjungi, pertama, saya menjadi saksi bahwa Kalimantan kita memang sedang tidak baik-baik saja. Tantangan kita masih besar karena prediksi dari BMKG, hujan alami di Kalimantan Tengah baru akan ada pada November,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan ancaman karhutla masih jauh dari selesai. Bahkan, di sejumlah kawasan, termasuk sekitar Taman Nasional Tanjung Puting, hujan alami diperkirakan baru turun pada akhir November. Artinya, upaya pemadaman dan penanganan asap harus terus dilakukan di tengah kondisi cuaca yang belum mendukung.

Raja Juli menegaskan pemerintah tidak tinggal diam. Menurutnya, pemerintah berupaya memadamkan api sekaligus menekan dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat, terutama risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

“Saya juga ingin memastikan bahwa pemerintah tidak cuci tangan, tidak lepas tangan. Bahkan sebaliknya, pemerintah hadir semaksimal mungkin untuk memastikan api padam dan asap tidak membuat lebih banyak lagi masyarakat kita terkena ISPA,” tegasnya.

Namun, di tengah situasi yang membutuhkan penanganan cepat, sejumlah langkah yang disampaikan masih bertumpu pada upaya yang menghadapi kendala teknis. Salah satunya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang melibatkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dengan dukungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Kehutanan.

Operasi tersebut membutuhkan bibit awan yang dapat disemai untuk membantu memicu hujan. Masalahnya, ketika fenomena El Nino menyebabkan kondisi lebih kering, ketersediaan awan hujan di sejumlah wilayah, termasuk Kalteng, menjadi terbatas.

“Operasi modifikasi cuaca baru bisa dilaksanakan apabila ada bibit awan semai. Repotnya, bibit awan ini jarang hadir pada saat-saat El Nino, terutama di salah satunya Kalimantan Tengah,” jelasnya.

Pemerintah juga mencoba mengembangkan teknologi dry ice atau es kering sebagai alternatif untuk membantu memicu pembentukan hujan. Raja Juli mengatakan teknologi tersebut masih dievaluasi bersama BMKG. Ia mencontohkan intervensi menggunakan dry ice di Sumatera Selatan yang dilaporkan diikuti peningkatan jarak pandang dan perbaikan indikator kualitas udara. Meski demikian, hasilnya masih perlu dikaji untuk memastikan hubungan sebab-akibatnya.

“Namanya ikhtiar, namanya usaha. Kita sebagai manusia terus melakukan upaya,” katanya.

Raja Juli menyebut pemasok dry ice di Kalimantan telah ditemukan. Material tersebut dijadwalkan tiba pada Minggu (18/10/2026) siang untuk mendukung operasi yang direncanakan bergerak ke arah Palangka Raya.

Meski berbagai upaya tersebut disiapkan, masyarakat masih membutuhkan hasil nyata, bukan sekadar pengakuan bahwa kondisi Kalimantan sedang tidak baik-baik saja. Pemadaman titik api, pencegahan kebakaran berulang, penanganan sumber asap, perlindungan kesehatan warga, serta kesiapan menghadapi minimnya hujan menjadi pekerjaan mendesak yang harus berjalan bersamaan.

Pemerintah juga perlu memastikan setiap langkah memiliki target yang jelas, perkembangan yang dapat dipantau publik, dan evaluasi terbuka mengenai efektivitasnya. Sebab, selama api masih menyala dan kabut asap mengancam kesehatan, pernyataan bahwa pemerintah hadir belum cukup tanpa hasil yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Di tengah prediksi hujan yang masih harus ditunggu, pertanyaan mendasar tetap mengemuka: jika Kalimantan sudah diakui tidak baik-baik saja, apa solusi konkret yang bisa segera dilakukan agar api padam, asap berkurang, dan masyarakat tidak terus menjadi korban karhutla? (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard