Lewati ke konten utama
Provinsi

Hujan Tekan Hotspot Karhutla di Kotim, BMKG Catat Tersisa 46 Titik

Redaksi 29-10-2026, 16:08 WIB 2 menit baca
Kepala BMKG Kotim, Mulyono Leo Nardo
Kepala BMKG Kotim, Mulyono Leo Nardo

SB, SAMPIT – Hujan dengan intensitas cukup signifikan mulai menekan kemunculan titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). BMKG H Asan Sampit mencatat, jumlah hotspot kini tersisa 46 titik, turun drastis dibandingkan periode sebelumnya yang pernah mencapai 1.000 titik dalam sehari.

Kepala BMKG Kotim Mulyono Leo Nardo mengatakan, hujan yang mengguyur sebagian besar wilayah Kotim pada Rabu mencapai sekitar 45,2 milimeter. Curah hujan tersebut membantu membasahi lahan sekaligus mengurangi potensi kebakaran di sejumlah wilayah yang sebelumnya rawan karhutla.

“Dari catatan kami, hujan pada Rabu cukup signifikan, sekitar 45,2 milimeter. Hampir sebagian besar wilayah Kotim sudah mulai berkurang hotspot-nya,” ungkap Mulyono.

Meski jumlah titik panas menurun, BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Potensi hujan ringan hingga sedang masih ada dalam beberapa hari ke depan, tetapi peluang hujan diperkirakan mulai berkurang pada Kamis dan Jumat.

“Untuk hari ini potensinya cukup tinggi. Kemungkinan besok dan lusa mulai berkurang,” ujarnya.

Mulyono menjelaskan, hujan yang terjadi belakangan ini merupakan bagian dari dinamika cuaca alami yang turut didukung operasi modifikasi cuaca (OMC). Penyemaian dilakukan berdasarkan pemantauan terhadap wilayah yang memiliki potensi pertumbuhan awan hujan.

“Dikatakan alami, tapi ada modifikasi. Kami juga melihat potensi pertumbuhan awan. Di wilayah yang memiliki potensi pertumbuhan awan, di situ kami melakukan penyemaian melalui OMC untuk mempercepat proses pembentukan awan hujan,” jelasnya.

Dalam pelaksanaan terakhir, penyemaian dilakukan di sejumlah wilayah, meliputi Kotim, termasuk Sampit dan sekitarnya, serta Kabupaten Seruyan dan Katingan. Langkah tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi atmosfer dan potensi pertumbuhan awan di masing-masing wilayah.

BMKG juga mengingatkan bahwa kondisi cuaca saat ini masih berada dalam masa peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan. Artinya, penurunan hotspot belum menjamin ancaman karhutla berakhir. Apabila hujan kembali berkurang dan lahan mengering, risiko kebakaran dapat meningkat lagi.

Wilayah Kecamatan Mentaya Hilir Utara dan kawasan selatan Kotim menjadi daerah yang masih perlu mendapat perhatian dalam upaya pencegahan karhutla. Masyarakat diminta tetap berhati-hati, terutama agar tidak melakukan pembakaran lahan yang dapat memicu kebakaran meluas.

Sementara itu, awal musim hujan di Sampit dan sekitarnya diprakirakan mulai pada dasarian pertama November, yakni 1–10 November. Adapun wilayah selatan Kotim diperkirakan memasuki musim hujan pada dasarian ketiga November atau 21–30 November.

Untuk wilayah tengah Kotim, terdapat indikasi kemunduran awal musim hujan. Namun, BMKG belum menerbitkan pembaruan resmi terkait prakiraan tersebut.

“Kami masih melihat perkembangan dan belum merilis ulang prakiraan musim. Kemungkinan wilayah tengah juga pada November dasarian pertama, tetapi masih menunggu pembaruan,” pungkas Mulyono.

BMKG mengimbau masyarakat tetap mewaspadai perubahan cuaca dalam beberapa pekan ke depan. Hujan yang mulai turun diharapkan dapat terus menekan titik panas, tetapi upaya pencegahan karhutla tetap diperlukan hingga musim hujan benar-benar berlangsung secara konsisten. (sb/*)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard