Menjelang Ramadan Dinsos Kotim Perketat Pengawasan Gelandangan
SB, SAMPIT – Tidak asing lagi disaat mendekati bulan suci ramadan gepeng atau anak gelandangan mulai bermunculan di setiap kota-kota, termasuk di Kota Sampit sendiri.
Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kotim, Yunus mengatakan, bahwasanya pihak sudah membina secara bertahap kepada anak gelandangan dan mantan mucikari eks lokalisasi km 12 Sampit.
Sedangkan di bulan Ramadan menjadi pertimbangan lebih mendalam dalam kasus sosial ini. Terlebih lagi perhatian yang tertuju kepada anak gelandangan dan mantan mucikari.
“Dalam pengawasan anak gelandangan kita selalu bekerjasama dengan Satpol PP, terlebih mendekati bulan suci Ramadan ini. Namun kita tidak lepas juga selalu mensosialisasikan dan pembinaan terhadap mereka-mereka,” ujar Yunus saat ditemui di kantornya, Rabu (8/3/2023).
Dijelaskannya, masalah anak gelandangan ini tidak lepas dari kerja sama semua pihak, mulai penindakan yaitu Satpol PP dan pembinaan baik itu dari yayasan dan lainnya.
Peran warga pun penting baik dari laporan yang diterima kepada Dinas Sosial maupun kerja sama lainnya dalam bentuk tidak memberikan uang kepada anak gelandangan. Hal ini memang tidak mudah jika mempertimbangkan dari segi manusiawi.
“Akan tetapi, ini perihal bagaimana kita memberikan efek jera. Mereka pun belum tentu bukan orang mampu. Namun bisa jadi orang kaya karena dijadikan profesi oleh koordinator orang yang tidak bertanggung jawab,” terangnya.
Sementara, tentang kasus esek-esek terselubung sangat sulit dibersihkan secara total. Hal ini karena tidak hanya perihal tempat lokasinya yang dibatasi tapi juga akses dunia maya ataupun kasus seperti kos harian.
"Sosialisasi secara langsung ke lokasi pun pernah kami lakukan akan tetapi akuan yang bersangkutan perihal akibat seperti HIV itu berlangsung masih lama alias 10 tahun tidak seperti kebutuhan primer kami yang lebih penting dan mendesak," ungkapnya.
“Ini memang tidak mudah tapi sosialisasi dan pembinaan tetap dilakukan. Segala sesuatu yang dijalankan terus menerus tentu tak mungkin akan menjadi hal yang sia-sia,” timpalnya diakhir penyampaian. (f2/sb)