Lewati ke konten utama
HUKUM

Bocah 10 Tahun di Sampit Jadi Korban Perundungan

Redaksi 21-10-2026, 13:36 WIB 2 menit baca
Arini, ibu korban bocah perundingan di Sampit. (FOTO: SEPUTAR BORNEO)
Arini, ibu korban bocah perundingan di Sampit. (FOTO: SEPUTAR BORNEO)

SB, SAMPIT - Seorang bocah perempuan berusia 10 tahun di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, diduga menjadi korban perundungan oleh teman satu sekolahnya.

Selain kerap mendapat ejekan yang menyasar kondisi ekonomi keluarganya, sepeda yang biasa digunakan untuk berangkat sekolah juga disebut mengalami perusakan.

Kasus tersebut menjadi sorotan setelah video kesaksian anak berinisial S itu mengenai perundungan yang dialaminya viral di media sosial. S diketahui masih duduk di kelas III sekolah dasar (SD).

Ibu korban, Arini (51), mengungkapkan bahwa perlakuan tersebut diduga telah dialami anaknya sejak Juli 2026 hingga sekarang. Saat ditemui di rumahnya di Sampit, Rabu (21/10/2026), Arini menceritakan bahwa anaknya berulang kali mendapat ejekan dari teman sekolahnya.

“Memang benar. Anak saya sering diolok-olok. Dibilang orang miskin, katanya orang miskin tidak pernah melihat uang,” tutur Arini.

Menurutnya, ejekan yang diterima S tidak hanya berkaitan dengan kondisi ekonomi keluarga. Anaknya juga disebut kerap dituduh sebagai pencuri.

“Sering banget diolok-olok. Dibilang maling, ‘dasar kamu maling’ begitu,” ujarnya.

Arini juga menceritakan dugaan perusakan sepeda yang biasa digunakan S untuk pergi ke sekolah. Sepeda tersebut menjadi sarana transportasi anaknya untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

Dampak dari perlakuan tersebut, kata Arini, mulai dirasakan pada semangat anaknya untuk bersekolah. S bahkan sempat enggan berangkat karena tidak tahan menghadapi ejekan yang disebut terus berulang.

“Kadang tidak mau sekolah lagi karena diolok-olok terus. Harus dipaksa dulu, kadang abangnya juga yang membujuk supaya mau sekolah,” ungkapnya.

Meski sempat menolak berangkat, S akhirnya kembali menjalani aktivitas sekolah seperti biasa. Ia biasanya mengayuh sepeda sendiri menuju sekolah.

Arini menyebut anak yang diduga melakukan perundungan merupakan teman satu sekolah S dan tinggal tidak jauh dari rumah mereka. Ia mengaku pernah mendatangi ibu dari anak tersebut untuk menanyakan persoalan yang dialami putrinya.

Namun, menurut Arini, perlakuan serupa masih berlanjut. Ia juga telah menyampaikan persoalan itu kepada pihak sekolah.

Pihak sekolah disebut telah memberikan teguran kepada anak yang diduga melakukan perundungan. Meski demikian, Arini menilai teguran tersebut belum membuat perlakuan yang dialami putrinya berhenti.

Di tengah persoalan yang dihadapi anaknya, Arini juga sedang berjuang memulihkan kondisi kesehatannya. Ia mengaku mengalami sakit pada bagian kaki hingga pinggang setelah ditabrak seorang remaja dari belakang beberapa bulan lalu.

Kondisi tersebut menambah beban yang harus dihadapinya dalam mendampingi anaknya. Meski demikian, Arini berharap persoalan yang dialami S dapat segera diselesaikan sehingga putrinya bisa kembali bersekolah dengan tenang.

“Ya, mudah-mudahan ke depannya tidak ada lagi yang mengolok-olok atau menghina anak saya,” harapnya.

Bagi Arini, sekolah seharusnya menjadi tempat bagi anak untuk belajar, bertumbuh, dan mengembangkan diri dengan aman.

Ia berharap tidak ada lagi perlakuan yang membuat putrinya takut atau kehilangan semangat untuk berangkat ke sekolah.

Kasus ini menjadi pengingat pentingnya peran orang tua dan pihak sekolah dalam mencegah perundungan serta menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik.(f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard