Kasus Stunting di Kotim Turun Menjadi 0,6 Persen
SB, SAMPIT - Berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar dan Survei Status Gizi Indonesia, Kabupten Kotawaringin Timur (Kotim) di tahun 2022 yaitu 27,9 persen dari tahun sebelumnya 32,5 persen.
Sedangkan berdasarkan data elektronik pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat tahun 2022 yaitu 22,6 persen dibanding tahun sebelumnya 23,2 persen. Penurunan ini sesuai dengan peraturan Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Nomor 13 tahun 2019.
“Mengacu kepada data E PPGBM sebaran prevalensi stunting Kabupaten Kotim menurun 0,6 persen di tahun 2022, tertinggi ada di Kecamatan Pulau Hanaut sebesar 32,3 persen dan terendah di Kecamatan MH Utara 9,9 persen. Sedangkan cakupan input data ke aplikasi E PPGBM dan kunjungan posyandu hanya 31 persen,” teran Bupati Kotim, Halikinnor, Kamis (16/3/2023) kemarin.
Bupati Kotim juga mengatakan, hal tersebut menjadi pehatian bagi Pemerintah Daerah, bagaimana meningkatkan input data ke aplikasi E PPGBM dan meningkatkan kunjungan ke posyandu dengan inovasi-inovasi yang dilaksanakan, seperti melaksanakan lomba posyandu se-Kotim.
“Pelayanan di Kotim sendiri, Puskesmas 21, Posyandu 317, tenaga gizi 24, bidan 137, USG yang tersediah 12. Dengan total 317 posyandu yang tersebar di Kotim, tersedia 329 antropometri dan 13 USG. Sebagai bentuk cepat penurunan stunting masih perlu antropometri dan 11 USG,” sebut Halikinnor.
Isu permasalahan penurunan stunting ini juga lagi- lagi di faktor wilayah yang begitu besar dan akses ke lokasi masih sulit sehingga menyulitkan dalam intervensi.
“Ketersedian infrastruktur dan sanitasi yang rendah hanya mengandalkan dukungan dana DAK dan kebiasan BABS yang masih terjadi,” tutupnya. (f1/sb)