seputarborneo.news@gmail.com

082253082672

Penuhi Panggilan Mediasi, Pani: Saya dan Almarhum Saudi Malah Dikeroyok

by Redaksi - Tanggal 20-09-2023,   jam 02:35:29
Korban Pani ketika menunjukkan bekas luka bacokan parang saat kejadian. (FOTO:ISTIMEWA) Korban Pani ketika menunjukkan bekas luka bacokan parang saat kejadian. (FOTO:ISTIMEWA)

SB, PALANGKA RAYA – Pani, korban pengeroyokan menggunakan senjata tajam di kawasan perkebunan kelapa sawit di Desa Pelantaran, Kecamatan Cempaga Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur pada Senin (11/9/2023) masih trauma.

Karena pria 41 tahun terdebut salah satu korban yang selamat dalam pengeroyokan yang dilakukan oleh belasan massa yang diduga dari Hok Kim. Namun salah satu rekannya bernama Saudi meninggal dunia dengan kondisi mengenaskan akibat sabitan senjata tajam.

Dengan kondisi masih luka membekas pada tangan sebelah kanan, tangan sebelah kiri dan punggung belakang, Pani menceritakan, pada waktu itu dirinya dan Saudi (almarhum) masuk ke dalam kebun sawit usai diundang oleh terduga pelaku Deni untuk melakukan mediasi.

Namun katanya, setiba di lokasi justru dikelilingi oleh belasan massa dengan parang yang sudah terkeluar dari sarungnya. Seketika, keduanya lalu diserang dari berbagai arah oleh massa menggunakan parang.

Dan dirinya juga membantas di isu yang mengatakan ada penyerangan dari masyarakat, namun yang sebenarnya adalah dirinya dan almarhum Saudi memenuhi undangan mediasi dan langsung dilakukan penyerangan oleh sekelompok orang.

"Tidak ada namanya penyerangan oleh masyarakat. Saya diundang oleh Deni dengan maksud mediasi karena permasalahan panen," katanya, Selasa (19/9/2023) usai memberikan keterangan di Mapolda Kalteng.

Saat kejadian, lanjut Pani, korban Saudi yang diserang kemudian melakukan perlawanan. Ia kala itu turut diserang dimana lehernya dikalungkan parang dan tangan terluka ketika diserang. Sambil berteriak mengucapkan 'Allahuakbar' ia pun sempat melawan dan berlari untuk mencabut parangnya yang masih berada di dalam sarung.

Akan tetapi, ujar Pani, karena panik dan parang yang terkunci tak langsung terbuka. Tetapi setelah beberaa kali ia kemudian kembali mendatangi massa dan menemukan Saudi sudah terduduk bersimbah darah.

"Saya berdua dengan almarhum posisi parang masih di dalam sarung. Tidak ada melakukan penyerangan, malah mereka parangnya sudah keluar dari sarung," tuturnya.

Tak lama kemudian, masyarakat datang untuk menolong dan massa seketika kabur melarikan diri.

"Korban masih hidup saat itu, namun saya sangat sedih korban sempat berucap sudah tidak tahan lagi dan akhirnya meninggal di Puskesmas Pundu," sebutnya.

Ia pun membantah dengan tegas kabar yang beredar jika masyarakat melakukan penyerangan terhadap massa yang ada di dalam kebun sawit.

"Saya sangat miris mendengar kabar jika kami melakukan penyerangan terlebih dulu. Padahal kami datang baik-baik karena diundang untuk mediasi saat kejadian," pungkasnya. (sb/*)