seputarborneo.news@gmail.com

082253082672

Sidang Kasus Polisi Tembak Warga: Reza Indragiri Ungkap Dampak Psikologis

by Redaksi - Tanggal 24-04-2025,   jam 11:25:19
Sidang kasus penembakan sopir ekspedisi dengan agenda minta keterangan ahli psikologi. (FOTO:SEPUTAR BORNEO) Sidang kasus penembakan sopir ekspedisi dengan agenda minta keterangan ahli psikologi. (FOTO:SEPUTAR BORNEO)

SB, PALANGKA RAYA –Sidang lanjutan kasus penembakan warga oleh oknum polisi di Kalimantan Tengah kembali digelar pada Kamis (24/4/2025) di Pengadilan Negeri Palangka Raya.

Kali ini, ahli psikologi forensik ternama, Reza Indragiri, hadir sebagai saksi ahli dan memberikan pandangan mendalam mengenai kondisi psikologis para saksi saat peristiwa terjadi.

Reza Indragiri bukan nama asing dalam dunia hukum dan psikologi forensik Indonesia. Alumni Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) ini pernah menangani berbagai kasus besar.

Dalam kesaksiannya, Reza menjelaskan bagaimana seseorang bereaksi secara psikologis saat berada dalam situasi penuh ancaman, khususnya ketika berhadapan dengan senjata api.

"Karena pada saat senjata digunakan fokus berpikir orang yang menyaksikan itu cuma satu, yaitu menjauhkan diri sejauh-jauhnya," ujar Reza dalam persidangan.

Ia menambahkan bahwa kondisi psikologis seseorang yang melihat senjata api biasanya langsung jatuh ke tingkat naluriah yang paling dasar: bertahan hidup.

"Menyaksikan situasi kritis yang ditandai penggunaan senjata api, membuat proses berpikir seseorang mundur ke taraf yang paling primitif yaitu, hidup atau mati," jelasnya lebih lanjut.

Keterangan Reza memperkuat pembelaan dari tim kuasa hukum salah satu terdakwa, Muhammad Haryono. Kuasa hukum Haryono, Parlin, mengatakan bahwa kliennya berada dalam tekanan hebat saat insiden terjadi, karena Anton Kurniawan (terdakwa utama) sedang memegang senjata api.

"Kita ingin menyampaikan bagaimana klien kami, disaat peristiwa terjadi. Artinya dia dalam situasi tertekan karena terdakwa Anton sedang memegang senjata api. Ketika di dekat orang memegang senjata api, jangankan menolak, membuat gestur saja tidak berani," ujar Parlin. (sb)