Ketua Kadin Kotim Optimis Sarang Walet akan Bangkit Kembali
SB, SAMPIT - Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Kotim, Susilo, optimis sarang walet akan kembali menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Kotim.
Ia mengatakan, sarang walet merupakan usaha yang bergantung pada alam dan dipercaya akan bermigrasi kembali.
"Terkait masalah sarang burung walet memang menjadi sebuah usaha yang sangat primadona dan jaya pada masa itu. Tetapi perlu kita ketahui namanya walet itu tergantung faktor alam, burung itu tidak bisa ditebak," kata Susilo, Sabtu (31/5/2025).
Lanjutnya, ekspor sarang burung walet yang berasal dari Kotim saat ini diakuinya sangat turun drastis. Bahkan banyak masyarakat yang sudah mendirikan rumah walet itu kosong, tidak berpenghuni.
Padahal, dahulu ada beberapa investor yang ingin mengembangkan industri hilir dan hulu terkait pengelolaan sarang burung walet. Rencana itu tertunda karena melihat potensinya kini kian berkurang.
Sebelumnya sarang burung walet Habaring Hurung menjadi primadona. Bahkan Kotim menjadi daerah pertama yang diincar oleh pembeli atau buyer-buyer sarang burung walet.
"Saya meyakini walet akan berjaya kembali, tetapi masyarakat harus bersabar karena burung walet itu tergantung faktor alam yang tidak bisa diprediksi. Hari ini bisa ada, besok tidak (bermigrasi). Ada harapan kita mudah-mudahan walet ini menjadi industri andalan untuk masyarakat Kotim," tambahnya.
Ia mengatakan, walet merupakan burung alam dan tidak bisa diternak. Keberadaannya pun berpindah-pindah, seperti tradisi burung yang hidup di alam pada umumnya. Saat ini diketahui burung walet banyak bermigrasi ke daerah-daerah pedalaman, bukan perkotaan.
Susilo menegaskan, meski kondisi usaha sarang burung walet kini lesu, ia berharap pemerintah daerah menyiapkan regulasi yang jelas terkait usaha tersebut. Karena selama ini, menurutnya, miliaran hasil ekspor sarang burung walet hanya secuil pajaknya dirasakan masyarakat.
"Mulai sekarang harus ditata dengan baik regulasi pajak hasil sarang burung walet. Sehingga nanti jika sarang burung walet kembali berjaya, kembali menghasilkan akan menjadi hal yang sangat luar biasa untuk kemajuan ekonomi. Artinya nanti, regulasinya sudah ada dan diterapkan," ujarnya.
Lebih lanjut, dahulu pernah pernah disinggung mengenai Perda walet tapi belum berjalan saat ini. Dirinya juga mengingat waktu itu bersama beberapa camat dan kepala desa ingin memberikan penertiban terkait IMB atau PBG mendirikan gedung walet. Tetapi hingga saat ini belum ada realisasinya.
"Saya berharap pemerintah daerah menerapkan PBG sarang burung walet. Itu menjadi potensi PAD Kotim yang luar biasa. Ada tidaknya sarang walet itu nanti, yang pasti izin mendirikan bangunan sarang walet itu banyak, tetapi selama ini lepas dari pengawasan," papar Susilo.
Menurutnya, ribuan gedung walet yang dibangun namun masih dipertanyakan berapa persen PAD yang dihasilkan dari pajak IMB atau PBG-nya. Sehingga pemerintah daerah harus getol memperjuangkan itu untuk masyarakat.
"Pemerintah itu harus tegas bukan berarti membabi buta. Artinya tegas untuk kepentingan masyarakat dan kemakmuran masyarakat Kotim. Kita sebagai masyarakat Kotim harus taat pajak. Ini yang selama ini belum digali, padahal Kotim sangat luar biasa sumber daya alamnya melimpah ruah," ucapnya.
Dirinya mengajak semua pihak sebagai pengusaha dan sebagai masyarakat Kotim harus punya rasa memiliki dan rasa tanggung jawab untuk membangun Kotim yang lebih baik. Serta menjaga kearifan budaya lokal untuk kemajuan masyarakat Kotim yang lebih baik.
"Ini tanggung jawab kita bersama bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Pemerintah hadir dari regulasinya, masyarakat hadir dari kebutuhannya," tandasnya. (f1/sb)