Lewati ke konten utama
Provinsi

Krisis Air Bersih Kembali Melanda Wilayah Selatan Kotim, Sampai Sekarang PDAM Masih Cari Solusi

Redaksi 15-10-2025, 04:11 WIB 2 menit baca
Direktur Perumdam Tirta Mentaya, Ismanadi ketika diwawancara oleh sejumlah wartawan. (FOTO:SEPUTAR BORNEO)
Direktur Perumdam Tirta Mentaya, Ismanadi ketika diwawancara oleh sejumlah wartawan. (FOTO:SEPUTAR BORNEO)

SB, SAMPIT – Warga di wilayah selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, kembali menghadapi krisis air bersih seiring datangnya musim kemarau. Masalah ini terjadi hampir merata di sejumlah kecamatan seperti Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hilir Selatan, Teluk Sampit, dan Pulau Hanaut.

Kondisi tersebut menjadi persoalan tahunan yang belum terselesaikan secara menyeluruh. Kepala Desa Bapinang Hilir Laut, Kecamatan Pulau Hanaut, Kadriansyah, menyebutkan bahwa sebagian besar warga di desanya masih bergantung pada air hujan yang ditampung dalam tandon untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Kalau musim kemarau, benar-benar bergantung pada tandon. Sumur bor ada yang rasanya asin, berkarat, bahkan berwarna kuning," ujar Kadriansyah, Rabu (15/10/2025).

Ia menjelaskan, tradisi menampung air hujan telah menjadi kebiasaan turun-temurun. Biasanya, warga mulai menyiapkan tandon atau tangki sejak jauh hari sebelum musim kemarau tiba, sebagai langkah antisipasi menghadapi kekeringan yang berkepanjangan.

"Kalau kemarau panjang, warga memang sudah siap menampung air hujan. Itu cara satu-satunya," tambahnya.

Namun, saat kemarau berlangsung terlalu lama, cadangan air hujan tidak lagi mencukupi. Warga pun terpaksa mencari air bersih ke desa lain. Kadriansyah menyebutkan, warga Bapinang Hilir Laut umumnya menyeberang ke Desa Regei Lestari untuk mengambil bantuan air bersih dari pemerintah daerah.

Meski krisis terus berulang, kini muncul harapan baru. Perumdam Tirta Mentaya berencana membangun jaringan pipa air bersih yang akan dimulai pada tahun 2026. Salah satu titik awal pembangunan direncanakan berada di Desa Hanaut, Kecamatan Pulau Hanaut.

“Rencananya PDAM akan membangun jaringan di seberang, tepatnya di Desa Hanaut. Ada juga informasi bahwa air akan disalurkan dari PDAM Sei Lepeh, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, menyeberangi Sungai Mentaya,” jelas Kadriansyah.

Menurutnya, saat ini ada tiga titik lokasi yang diusulkan dalam proyek pembangunan tersebut, yakni Desa Babaung, Hanaut, dan satu lokasi lainnya. Namun, hingga kini belum ada kepastian titik mana yang akan direalisasikan lebih dulu.

“Kami belum tahu mana yang disetujui. Harapannya semoga benar-benar terealisasi, tidak sekadar janji. Mudah-mudahan tahun 2026 seluruh desa di Pulau Hanaut bisa tersaluri air bersih,” ujarnya.

Direktur Perumdam Tirta Mentaya yang baru dilantik untuk periode 2025–2030, Ismanadi, menyampaikan komitmennya untuk menanggulangi permasalahan krisis air bersih di wilayah tersebut.

“Kami akan melakukan diskusi untuk mencari solusi. Setiap tahun Pulau Hanaut mengalami kekeringan, dan air laut sering masuk ke area produksi, sehingga tidak bisa diolah,” ujarnya.

Ismanadi menegaskan pihaknya akan mencari langkah-langkah mitigasi terbaik agar masyarakat tidak lagi mengalami kesulitan air bersih saat musim kemarau.

“Nanti akan kami informasikan kembali setelah menemukan cara terbaik untuk mengatasi permasalahan itu,” pungkasnya. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard