seputarborneo.news@gmail.com

082253082672

Ruang Iklan Tersedia

Niat Menolong, Pimpinan Yayasan Panti Asuhan Dianiaya Residivis

by Redaksi - Tanggal 14-11-2025,   jam 04:34:14
Sri Rohani, korban penganiaya memperlihat hasil ronsen pemeriksaan dirinya. (FOTO:SEPUTAR BORNEO) Sri Rohani, korban penganiaya memperlihat hasil ronsen pemeriksaan dirinya. (FOTO:SEPUTAR BORNEO)

SB, SAMPIT - Sri Rohani (52) pemimpinan Yayasan Panti Asuhan Annida Qolbu, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotim tak menyangka dirinya akan dipukul oleh Rahmad (44) pria yang sempat ditampunginya di yayasan tersebut.

Pelaku merupakan seorang residivis asal Sampit yang menginap di panti asuhan tersebut dari pertengahan Oktober atas dasar kemanusiaan.

Korban dipukulnya beberapa kali dari belakang punggung menggunakan tangan dengan posisi korban diatas kursi roda.

Akibat pemukulan tersebut Sri Rohani mengalami retak tulang pipi hingga ke hidung dan mata. Sehingga harus membutuhkan perawatan yang intensif untuk kembali normal. 

"Dia ancam mau membunuh saya menggunakan mandau, dengan posisi saya di kursi roda dan saya dipukul dari belakang. Anak-anak panti takut karena dia memegang mandau," kata Sri Rohani saat diwawancarai, Jumat (14/11/2025).

Peristiwa penganiayaan ini terjadi pada 13 November 2025 sekitar pukul 10:30 WIB bertempat di Yayasan Pantai Asuhan Annida Qolbu.

Pelaku merupakan kenalan korban yang sudah dianggap keluarga sendiri. Dirinya sering minta bantuan karena tidak memiliki pekerjaan dan tempat tinggal. 

"Karena saya anggap sudah seperti saudara akhirnya saya mengijinkan untuk tinggal di panti," ucapnya.

Korban bahkan muntah darah sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit. Tak berhenti sampai disitu, Rahmad kembali mengayunkan mandau ke arah leher korban.

Beruntung, tebasan tersebut tidak mengenai tubuh Sri Rohani. Teriakan para pengurus dan anak-anak panti membuat pelaku panik hingga akhirnya melarikan diri.

Anak panti trauma dengan kejadian tersebut. Beberapa saksi mata menangis ketakutan saat melihat pengasuh mereka diserang.

Sri Rohani mengaku sangat terpukul dengan kejadian ini. Ia merasa sudah berbaik hati menolong pelaku, namun justru dibalas dengan penganiayaan. Kondisi ini membuatnya tak mampu menghindar atau melawan saat diserang, serta tak mungkin mengejar pelaku ketika melarikan diri.

“Kami menerima siapa pun yang butuh bantuan, tapi perlindungan terhadap kami sangat kurang. Sudah beberapa kali kejadian kriminal di sini tidak ditindaklanjuti,” keluhnya.

Ia menuturkan bahwa selama ini panti sering menghadapi ancaman, namun merasa kurang mendapat perlindungan dari pihak berwajib.

“Kami ini kan lemah, para pengasuh tidak diajarkan kekerasan. Ketika disakiti, kami hanya bisa pasrah,” tegasnya.

Pada Kamis sore, korban resmi melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Baamang. Ia berharap polisi segera menangkap pelaku agar keamanan anak-anak panti dapat terjamin.

Warga sekitar yang mengetahui kejadian ini pun meminta pihak kepolisian bergerak cepat. Mereka khawatir pelaku dapat kembali berulah dan membahayakan lingkungan.

Hingga berita ini diturunkan, aparat kepolisian disebut masih melakukan pencarian terhadap Rahmad Ramadan.

Korban masih menjalani perawatan intensif akibat luka retak tulang pada bagian wajah dan kepala. (f1/sb)