Dewan Soroti Kasus Dugaan Keracunan di Telawang, Minta Aparat Ungkap Penyebab Secara Ilmiah
SB, SAMPIT - Kasus dugaan keracunan yang menimpa satu keluarga di Kecamatan Telawang dan menyebabkan seorang balita meninggal dunia mendapat perhatian serius dari Komisi III DPRD Kotawaringin Timur (Kotim).
Anggota Komisi III, SP Lumban Gaol, meminta aparat terkait segera memastikan penyebab kejadian agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
Menurut SP Lumban Gaol, terdapat dua dugaan utama yang berkembang di masyarakat, yakni Konsumsi es teler dan roti bakar yang dimakan keluarga tersebut pada malam sebelum kejadian, dan Kemungkinan paparan zat berbahaya di lingkungan sekitar rumah.
Ia menegaskan bahwa kedua dugaan tersebut harus diuji secara ilmiah sebelum disimpulkan.
“Bila benar dari makanan, maka standar kebersihan usaha rumahan perlu diperketat. Namun jika ada faktor lingkungan seperti paparan zat berbahaya, orang tua harus semakin waspada,” tegasnya, Jumat (12/12/2025).
Komisi III DPRD Kotim menilai pentingnya kerja sama lintas instansi agar penanganan berjalan komprehensif. Ia menekankan bahwa kepastian penyebab sangat diperlukan untuk mencegah kecemasan yang semakin meluas di masyarakat.
“Yang paling kami harapkan adalah kepastian penyebab. Dengan begitu, langkah pencegahan bisa dilakukan dan kekhawatiran masyarakat tidak semakin meluas,” ujar Lumban Gaol.
Politisi Partai Demokrat tersebut juga menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga korban dan meminta agar proses penyelidikan dilakukan cepat dan transparan.
“Kami sangat berbelasungkawa. Kepolisian dan Dinas Kesehatan perlu bergerak cepat untuk memastikan apa yang menjadi penyebab utama. Masyarakat membutuhkan kejelasan,” tambahnya.
Kasus dugaan keracunan ini terjadi di Desa Sebabi, Kecamatan Telawang. Lima anggota keluarga dilarikan ke fasilitas kesehatan setelah mengalami muntah, diare, dan tubuh melemah. Seorang balita berusia satu tahun meninggal dunia dalam penanganan medis.
Camat Telawang, Dedy Jauhari, menjelaskan bahwa keluarga tersebut sebelumnya mengonsumsi es teler dan roti bakar pada Jumat malam, kemudian gejala muncul beberapa jam setelahnya.
“Mereka berobat keesokan harinya karena kondisi semakin memburuk,” ungkapnya.
Dedy juga menyebut adanya kejanggalan karena warga lain yang membeli makanan dari tempat yang sama tidak mengalami keluhan.
“Ini membuat dugaan penyebab tidak bisa langsung disimpulkan. Ada kemungkinan faktor lain yang memicu sakit,” jelasnya.
Kelima korban awalnya dirawat di Puskesmas Sebabi sebelum dirujuk ke RSUD dr Murjani Sampit. Plt Direktur RSUD, dr Yulia Nofiany, menyampaikan bahwa seluruh pasien ditangani intensif, termasuk dua balita.
“Satu balita tidak berhasil diselamatkan. Untuk penyebab pastinya, kami masih menunggu hasil pemeriksaan lanjut,” tegasnya.
Koordinasi antara pihak medis, pemerintah kecamatan, kepolisian, dan instansi terkait terus dilakukan guna memastikan penanganan korban serta mencegah kejadian serupa terulang. (f1/sb)