Sekolah Rakyat Hampir Rampung, Pemkab Kotim Targetkan Tahun Ajaran Baru Terima Siswa
SB, SAMPIT - Pembangunan fisik Sekolah Rakyat di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus berjalan dan saat ini progresnya telah mencapai sekitar 53 persen. Pemerintah menargetkan fasilitas pendidikan tersebut sudah dapat digunakan pada tahun ajaran baru mendatang.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Kotim, Hawianan, mengatakan berdasarkan informasi dari pihak pelaksana proyek, pembangunan diprioritaskan selesai untuk ruang kelas dan asrama pada akhir Juni 2026.
“Informasi dari pelaksana, target 30 Juni itu ruang kelas dan asrama sudah diprioritaskan selesai. Mudah-mudahan September semua sudah clear,” ujarnya, Sabtu (23/5/2026).
Ia menjelaskan, sekolah tersebut dibangun di atas lahan hibah seluas 6,7 hektare, sementara area pembangunan yang dimanfaatkan sekitar 5 hektare dengan berbagai fasilitas penunjang pendidikan.
“Semua fasilitas akan dibangun, termasuk fasilitas olahraga, gedung pertemuan, tempat pengembangan bakat dan kompetensi anak-anak, sampai ruang terbuka hijau. Dari gerbang pun sudah didesain sedemikian rupa karena sebelumnya master plan-nya memang sudah ada,” katanya.
Menurut Hawianan, seluruh proses pembangunan dilaksanakan pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Pemerintah daerah hanya bertugas memfasilitasi dan melakukan pemantauan melalui tim teknis yang telah dibentuk.
“Kalau ada yang perlu difasilitasi daerah, kita bantu. Contohnya kemarin karena pekerja sangat banyak untuk mengejar target, kami dari Dinsos menyiapkan tenda tempat istirahat agar mereka tetap bisa bekerja meski cuaca panas ataupun hujan,” jelasnya.
Untuk tenaga pendidik, seluruh proses rekrutmen dilakukan pemerintah pusat melalui kementerian terkait. Namun pemerintah daerah tetap membantu memberikan rekomendasi jika ada kebutuhan tertentu.
Hawianan menyebutkan, Sekolah Rakyat tersebut nantinya akan menampung siswa jenjang SD, SMP hingga SMA. Pada tahap awal, masing-masing jenjang ditargetkan menerima sekitar 90 siswa.
“Targetnya tahun ajaran baru sudah bisa ditempati. Untuk semua jenjang, SD, SMP dan SMA masing-masing sekitar 90 siswa. Ditambah sekitar 100 siswa yang sudah ada akan dipindahkan ke sana,” katanya.
Terkait penjaringan siswa, Dinsos bersama pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) mulai melakukan pendataan langsung ke lapangan. Seleksi diprioritaskan bagi keluarga miskin berdasarkan data desil 1 dan desil 2.
“Kita tidak membuka pendaftaran seperti sekolah umum. Pendamping sosial langsung mendatangi warga berdasarkan data by name by address. Prioritasnya desil 1 dan 2, kalau kurang baru desil 3 dan 4,” jelasnya.
Ia menegaskan, calon siswa tidak melalui tes akademik, melainkan berdasarkan kondisi ekonomi keluarga yang benar-benar tidak mampu.
“Sekarang sudah banyak yang datang menanyakan karena peminat mulai banyak, termasuk dari keluarga mampu. Tapi saya sampaikan mekanismenya jelas, ini memang diprioritaskan untuk masyarakat tidak mampu dan tidak ada tes masuk,” pungkasnya. (f1/sb)