Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim, Rihel
SB, SAMPIT – Satgas Karhutla Kotawaringin Timur (Kotim) mengandalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengurangi dampak musim kemarau.
Pesawat dikerahkan menyemai awan potensial menggunakan sekitar 1.000 kilogram garam dalam setiap penerbangan. Operasi ini diperkirakan masih berlangsung hingga 17 Agustus 2026.
Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim, Rihel, mengatakan penyemaian dilakukan saat ditemukan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
“Untuk OMC, kita ada potensi awan hujan sampai dengan tanggal 17. Ini dilakukan oleh Provinsi Kalimantan Tengah dengan menggunakan pesawat udara,” ujar Rihel, Jumat (14/8/2026).
Hujan hasil OMC tidak selalu turun di Kota Sampit. Dalam beberapa hari terakhir, hujan terjadi di Cempaga Hulu. “Memang tidak langsung di Kota Sampit, tetapi beberapa hari ini ada hujan di daerah Cempaga Hulu. Itu hasil dari OMC,” katanya.
Selain OMC, petugas masih melakukan patroli dan pemadaman di sejumlah wilayah rawan karhutla. Namun, keterbatasan sumber air menjadi kendala karena kondisi kemarau.
“Misalnya jaraknya 500 meter, dibuat embung, kemudian dipompa lagi. Bisa menggunakan tiga sampai empat pompa supaya seimbang,” jelas Rihel.
Kabut asap juga masih terlihat pada pagi hari akibat kebakaran lahan di wilayah selatan Sampit. Rihel berharap hujan segera turun sehingga kondisi lahan tidak semakin kering. “Kalau sudah hujan, lumayan, tidak sampai kondisi kering sekali,” pungkasnya. (f1/sb)