BPBD Ungkap Kendala Arah Angin, OMC Belum Guyur Kapuas
SB, KUALA KAPUAS — Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terus dilakukan BNPB bersama TNI Angkatan Udara (TNI AU) dan BMKG untuk membantu menurunkan hujan di sejumlah wilayah yang terdampak kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), termasuk Kabupaten Kapuas.
Meski hujan telah turun di sejumlah wilayah, namun hingga Kamis (24/9/2026) Kabupaten Kapuas masih belum mendapatkan hujan secara merata. Kondisi tersebut membuat kabut asap semakin pekat di sejumlah wilayah, menurunkan jarak pandang dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Kalaksa BPBD Kabupaten Kapuas, Pangeran S. Pandiangan, S.Hut., M.M., mengatakan OMC telah dilakukan secara rutin dengan mengerahkan dua pesawat Cessna 208E Grand Caravan EX. Namun, upaya penyemaian awan belum memberikan hasil sesuai yang diharapkan di wilayah Kota Kuala Kapuas karena dipengaruhi arah angin.
"Arah angin di atas Kota Kapuas cenderung bergerak ke arah utara. Bisa jadi penyemaian bibit awan di Kota Kapuas dibawa angin menuju utara, sehingga hujan turun di bagian utara seperti beberapa wilayah Kecamatan Kapuas Tengah, Kapuas Hulu, Mandau Talawang dan Pasak Talawang yang telah ditumbuhkan justru menurunkan hujan," ucap Pangeran.
Berdasarkan pantauan satelit hingga Kamis (24/9/2026), tercatat sekitar 27.000 titik panas (hotspot) di wilayah Kabupaten Kapuas. Tingginya jumlah hotspot tersebut menjadi salah satu indikator masih tingginya potensi karhutla di tengah kondisi kemarau ekstrem.
Pangeran mengatakan kondisi kemarau ekstrem tidak hanya meningkatkan risiko karhutla, tetapi juga berdampak terhadap kualitas udara akibat kabut asap. Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena dapat mengganggu kesehatan masyarakat.
"Karena kemarau ekstrem ini berdampak pada karhutla, kabut asap, serta peningkatan kasus ISPA, terutama pada anak-anak dan lansia. Mari kita jaga wilayah bersama," tegasnya.
Selain mengandalkan upaya OMC, petugas gabungan terus melakukan pemantauan terhadap titik panas yang terdeteksi. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan potensi kebakaran dapat segera ditindaklanjuti sehingga tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Upaya pencegahan juga terus ditekankan kepada masyarakat. Warga diimbau tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar, mengingat kondisi cuaca yang panas dan kering serta angin yang dapat menyebabkan api dengan cepat menyebar.
Pemerintah daerah juga meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kebakaran lahan di sekitar lingkungan mereka agar dapat segera ditangani oleh petugas. (f4)