Lewati ke konten utama
Pemkab Kotawaringin Timur

Evaluasi Penanganan Karhutla, Halikinnor Minta Pendinginan Jadi Fokus Utama

Redaksi 30-09-2026, 16:01 WIB 2 menit baca
Pemkab Kotim ketika melaksanakan rapat koordinasi terkait penanganan karhutla. (FOTO: SEPUTAR BORNEO)
Pemkab Kotim ketika melaksanakan rapat koordinasi terkait penanganan karhutla. (FOTO: SEPUTAR BORNEO)

SB, SAMPIT - Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor mengevaluasi efektivitas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang selama ini dilakukan. Evaluasi tersebut dilakukan karena asap masih menyelimuti sejumlah wilayah, termasuk kawasan perkotaan Sampit, pada Rabu (30/9/2026).

Halikinnor mengatakan, salah satu indikator keberhasilan penanganan karhutla adalah kondisi Bandara H. Asan serta aktivitas belajar mengajar anak-anak yang tidak terganggu akibat asap.

“Jadi kita menilai, kita evaluasi apakah teknik atau cara yang kita lakukan untuk memadamkan ini sudah efektif dan efisien atau tidak. Dengan hasil yang kita proyeksikan, ternyata masih ada asap di daerah kota ini,” ujar Halikinnor.

Menurutnya, berdasarkan laporan dari petugas pengendali lapangan (Padal) dan para camat, wilayah utara Kotim relatif aman. Sementara itu, sumber asap diduga lebih banyak berasal dari wilayah selatan dan timur.

“Barometer kita itu bandara bisa didarati pesawat, anak-anak bisa tetap masuk belajar. Itu menjadi barometer kita. Dari laporan Pak Padal maupun para camat, mayoritas wilayah utara aman, sementara yang dari perusahaan maupun sumber lainnya lebih banyak dari selatan,” jelasnya.

Halikinnor menyebut arah angin dari timur turut membawa asap menuju wilayah perkotaan. Sejumlah wilayah yang menjadi perhatian di antaranya Kecamatan Pulau Hanaut, Seranau, Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hilir Selatan dan Teluk Sampit.

Karena itu, pemerintah daerah akan memfokuskan penanganan di wilayah timur dan selatan yang menjadi sumber asap.

Halikinnor menilai selama ini pemadaman masih cenderung berfokus pada api yang terlihat. Padahal, setelah api permukaan padam, bara di dalam lahan, terutama di kawasan gambut, masih dapat menyala kembali.

“Permasalahan kita, ketika ada informasi api membesar, air dikirim. Tapi kenapa asap masih ada? Karena kita sebatas memadamkan apinya. Begitu di sana muncul lagi, informasi dikirim lagi. Sementara di sini baru selesai padam nyalanya, bukan apinya yang betul-betul padam,” ungkapnya.

Untuk itu, ia meminta proses pendinginan dilakukan hingga benar-benar tuntas. Langkah tersebut membutuhkan ketersediaan air dalam jumlah besar serta dukungan peralatan pemadam.

“Makanya perlu konsentrasi bagaimana pendinginan sampai betul-betul padam. Dan itu membutuhkan air yang banyak. Berarti kebutuhan kita harus mesin Alkon ditambah lagi, embungnya ditambah lagi, sehingga persiapan suplai air ini cukup,” tegasnya.

Selain itu, pembagian waktu distribusi air juga akan diatur menyesuaikan kondisi angin. Menurut Halikinnor, suplai air dapat dimaksimalkan pada malam maupun siang hari agar proses pemadaman lebih efektif.

Dalam jangka panjang, Pemkab Kotim juga mempertimbangkan pembangunan sumur dalam untuk mendukung ketersediaan air saat musim kemarau. Bahkan, kedalaman sumur yang dibahas dapat mencapai sekitar 500 meter.

“Ke depan perlu sekali kita membuat sumur-sumur dalam. Sumur yang kedalamannya sampai 500 meter itu kapan pun kemarau, bagaimanapun kondisinya, tetap ada air. Ini juga menjadi pertimbangan kita ke depan,” ujarnya.

Halikinnor juga mengapresiasi instansi maupun perusahaan yang aktif membantu pemerintah dalam penanganan karhutla. Menurutnya, bentuk kepedulian tersebut layak diberikan penghargaan.

“Itu wajar. Kalau kepeduliannya lebih dari yang lain terhadap karhutla, kita apresiasi. Makanya nanti di hari jadi Kotim mungkin ada beberapa yang kita kasih penghargaan karena pada saat karhutla ini mereka punya kepedulian,” pungkasnya. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard