Karhutla Kotim Capai 2.136 Hektare, Saranau Wilayah Terparah
SB, SAMPIT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, terus menjadi perhatian. Hingga 10 Oktober 2026, luas lahan yang terbakar tercatat mencapai 2.136,43 hektare, dengan jumlah titik panas atau *hotspot* mencapai 43.863 titik sepanjang tahun ini.
Ketua Koordinator Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Kotim, Rihel, mengatakan penanganan kebakaran masih terus dilakukan, terutama di sejumlah kecamatan yang mencatatkan luasan lahan terbakar cukup besar.
Berdasarkan data kondisi karhutla pemerintah daerah, Kecamatan Seranau menjadi wilayah dengan luas kebakaran terbesar, yakni mencapai 884 hektare atau sekitar 41,38 persen dari total luas lahan terbakar di Kotim.
“Luas lahan terbakar di Kotim sudah mencapai 2.136,43 hektare hingga 10 Oktober 2026. Seranau menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar,” ujar Rihel, Senin (12/10/2026).
Selain Seranau, kebakaran dengan luasan cukup besar terjadi di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang yang mencapai 457,209 hektare dan Kecamatan Baamang seluas 420,455 hektare.
Sementara itu, rekapitulasi data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim per 10 Oktober 2026 pukul 17.43 WIB mencatat sebanyak 43.863 titik panas tersebar di 17 kecamatan.
Jumlah hotspot mengalami lonjakan signifikan pada Agustus dan September. Pada Agustus tercatat 14.529 titik, kemudian meningkat menjadi 23.686 titik pada September. Sedangkan pada Oktober, jumlahnya mencapai 5.131 titik hingga tanggal pendataan.
Kecamatan Mentaya Hilir Utara menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 7.719 titik. Berikutnya, Kecamatan Pulau Hanaut dengan 6.164 titik, Mentaya Hilir Selatan sebanyak 5.167 titik, serta Teluk Sampit sebanyak 4.923 titik.
Meski memiliki jumlah hotspot tertinggi, luas lahan terbakar di Mentaya Hilir Utara tercatat 90,558 hektare. Kondisi ini menunjukkan bahwa jumlah titik panas tidak selalu berbanding lurus dengan luas lahan yang terbakar.
Di sisi lain, upaya penanganan karhutla di lapangan masih berlangsung. Dalam periode 9 Oktober pukul 17.00 WIB hingga 10 Oktober 2026 pukul 17.00 WIB, petugas menangani 18 kejadian kebakaran.
Sebanyak 14 kejadian terjadi di Kecamatan Baamang, dua kejadian di Mentawa Baru Ketapang, serta masing-masing satu kejadian di Mentaya Hilir Utara dan Seranau.
Secara kumulatif, pemerintah daerah mencatat 1.384 penanganan kejadian karhutla di Kotim. Sementara itu, Kecamatan Antang Kalang, Telaga Antang, Bukit Santuai, dan Tualan Hulu belum mencatatkan penanganan kejadian maupun luas lahan terbakar dalam data tersebut.
Jumlah hotspot pada 2026 juga meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, jumlah titik panas yang tercatat sebanyak 453 titik.
Pemerintah daerah mengingatkan bahwa data luas lahan terbakar masih dapat berubah seiring proses pengukuran dan pembaruan informasi dari lapangan.
Dengan luas lahan terbakar yang telah melampaui 2.100 hektare dan puluhan ribu titik panas terdeteksi sepanjang tahun ini, penanganan karhutla di Kotim masih membutuhkan perhatian serius, terutama di wilayah dengan luasan kebakaran terbesar. (f1/sb)