Lewati ke konten utama
Provinsi

Menhut Raja Juli Hanya Singgah Numpang Tidur di Sampit, Tanpa Tinjau Karhutla di Lapangan

Redaksi 14-10-2026, 13:52 WIB 3 menit baca
Pj Sekda Kotim, Diana Setiawan
Pj Sekda Kotim, Diana Setiawan

SB, SAMPIT – Kunjungan Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni ke Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) berakhir tanpa peninjauan lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Setelah tiba dan beristirahat disebut hotel termewah di Kota Sampit, Menhut langsung bertolak menuju Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Rabu (14/10/2026), tanpa sempat melihat langsung kondisi kebakaran yang masih menjadi persoalan di Kotim.

Situasi ini disayangkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotim. Padahal, pemerintah daerah telah menyiapkan penyambutan dan berharap kedatangan Menhut menjadi kesempatan untuk memperlihatkan beratnya perjuangan petugas memadamkan api, terutama di kawasan yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Kotim Diana Setiawan mengatakan, pihaknya sejak awal menyambut baik rencana kunjungan tersebut. Pemkab bahkan telah mempersiapkan pengamanan, pengawalan, hingga lokasi yang akan ditinjau bersama Menteri dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

“Pemerintah daerah sebenarnya sangat menyambut baik jadwal yang sudah ditetapkan dari Kementerian Kehutanan. Kami berharap Bapak Menteri bisa hadir di Kotim, meninjau lokasi karhutla dan berdiskusi dengan Forkopimda,” ujar Diana, Rabu (14/10/2026).

Namun, rencana tersebut berubah menjelang pelaksanaan. Diana menjelaskan, pemerintah daerah sempat menerima informasi perubahan lokasi agenda makan malam dari kawasan Ponik ke Pondok Jelawat. Pemkab kemudian berupaya berkoordinasi dengan pihak protokoler, bahkan menawarkan untuk menjemput atau menyambut Menhut di Hotel Aquarius Sampit.

Menurut Diana, pihaknya mendapat informasi bahwa Menteri ingin beristirahat karena kelelahan. Pemerintah daerah pun bersedia menunggu hingga pagi dengan harapan peninjauan lokasi karhutla tetap terlaksana.

“Kami mendapat informasi beliau mau istirahat karena capek. Jadi, kami sepakat menunggu dan siap menuju lokasi pada pagi harinya. Namun, sekitar pukul 21.00 WIB, kami mendapat informasi bahwa beliau batal meninjau lokasi karhutla di Kotim dan langsung menuju Pangkalan Bun,” ungkapnya.

Bagi Pemkab Kotim, batalnya peninjauan tersebut membuat kesempatan menyampaikan kondisi nyata di lapangan secara langsung belum terwujud. Diana menyebut, penanganan karhutla di wilayahnya menghadapi tantangan serius, terutama karena sejumlah titik api berada di kawasan tanpa akses jalan yang memadai.

Petugas harus berjalan kaki berkilo-kilometer untuk mencapai lokasi kebakaran. Bahkan, Wakil Bupati Kotim Irawati disebut turut menempuh perjalanan panjang demi membantu upaya pemadaman. Kondisi itu menggambarkan beratnya perjuangan tim di lapangan ketika harus menjangkau titik api dengan sarana dan sumber daya yang terbatas.

“Di seberang, tidak ada jalan. Kami harus berjalan kaki. Ibu Wakil Bupati datang ke sana berkilo-kilometer untuk membantu memadamkan api,” kata Diana.

Ia juga mengungkapkan, perjuangan petugas terkadang dihadapkan pada keterbatasan air minum. Dalam kondisi tertentu, ketika persediaan habis, petugas terpaksa menyaring air yang tersedia menggunakan pakaian sebelum diminum. Situasi tersebut menjadi salah satu gambaran kendala yang ingin disampaikan pemerintah daerah kepada pemerintah pusat.

“Kami berharap Pak Menteri bisa melihat langsung kondisi itu sehingga ada perhatian. Kami ingin berdiskusi, mencari solusi bersama, serta mengetahui dukungan apa yang bisa diberikan pemerintah pusat untuk membantu penanganan karhutla di Kotim,” tegasnya.

Diana mengakui kemungkinan ada agenda lain yang lebih mendesak sehingga Menhut harus melanjutkan perjalanan ke Pangkalan Bun. Meski demikian, Pemkab Kotim berharap pemerintah pusat tetap memberikan perhatian terhadap kesulitan penanganan karhutla di daerah, khususnya kebutuhan dukungan operasional dan upaya pemadaman di kawasan yang sulit dijangkau.

Hingga Rabu pagi, Diana menyatakan pemerintah daerah belum sempat bertemu langsung dengan Menhut maupun tim protokolernya. Sementara kunjungan yang diharapkan menjadi ruang koordinasi dan pencarian solusi itu tidak terlaksana, petugas di Kotim tetap harus berjibaku memadamkan api di tengah keterbatasan akses dan kondisi lapangan yang berat. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard