Lewati ke konten utama
HUKUM

Akibat Matlis, Ribuan Ayam Mati Dilempar ke Kantor PLN

Redaksi 30-10-2026, 14:04 WIB 2 menit baca
Ribuan bangkai ayam dibuang di depan Kantor PLN UP3 Palangka Raya, Jumat (30/10/2026).
Ribuan bangkai ayam dibuang di depan Kantor PLN UP3 Palangka Raya, Jumat (30/10/2026).

SB, PALANGKA RAYA - Kekecewaan masyarakat terhadap pemadaman listrik yang terus berulang di Kota Palangka Raya kembali memuncak. Dalam aksi Palangka Raya Gelap Jilid VII di depan Kantor PLN UP3 Palangka Raya, Jumat (30/10/2026), massa membawa ribuan bangkai ayam sebagai bentuk protes atas kerugian yang dialami peternak.

Aksi tersebut berlangsung panas. Massa bahkan melemparkan bangkai-bangkai ayam ke halaman hingga bagian dalam Kantor PLN. Mereka ingin menunjukkan bahwa pemadaman listrik bukan sekadar mengganggu aktivitas sehari-hari, melainkan juga berdampak langsung terhadap usaha masyarakat dan menyebabkan kerugian ekonomi dalam jumlah besar.

Salah seorang peternak ayam, Satrio mengaku kembali menjadi korban pemadaman listrik berulang. Sebanyak 7.000 ekor ayam miliknya yang masih berusia 16 hari dilaporkan mati.

"Ini ayam-ayam yang mati kami bawa sebagai bukti. Sebelumnya kami juga pernah mengalami kejadian serupa, sekitar 5.000 ekor ayam mati. Sekarang kejadian lagi, kurang lebih 7.000 ekor ayam menjadi korban," ungkap Satrio kepada awak media.

Ia menceritakan, kerusakan genset sebenarnya sudah terjadi pada periode pemadaman sebelumnya. Setelah diperbaiki, peralatan tersebut kembali digunakan dengan harapan masih mampu menopang kebutuhan listrik kandang sembari mengumpulkan modal untuk membeli genset baru.

Namun, harapan tersebut kembali pupus ketika pemadaman listrik terjadi lagi. Genset yang diandalkan sebagai sumber listrik cadangan kembali mengalami kerusakan hingga menyebabkan ribuan ayam yang dipeliharanya mati.

"Saya sebenarnya berharap periode ini bisa berhasil dulu, sehingga ada keuntungan untuk membeli genset baru. Tetapi ternyata pemadaman kembali terjadi dan genset kami jebol lagi. Akhirnya ayam-ayam yang menjadi korban," tuturnya.

Satrio memperkirakan total kerugian yang harus ditanggung mencapai Rp200 juta. Angka tersebut mencakup modal dan biaya operasional selama pemeliharaan ayam. Ia menyebut bukan hanya dirinya yang mengalami dampak serupa, sejumlah peternak lain juga menghadapi persoalan akibat ketidakstabilan pasokan listrik.

Menurutnya, tuntutan para peternak dalam rangkaian aksi Palangka Raya Gelap sebenarnya tidak berubah. Mereka meminta PLN menghentikan pemadaman berulang dan memberikan kompensasi kepada pelanggan yang dapat membuktikan kerugian akibat gangguan pasokan listrik.

"Kami sudah berkali-kali datang menyampaikan persoalan ini. Tetapi pemadaman masih terus terjadi, sementara kompensasi bagi kami yang mengalami kerugian nyata belum ada. Ini bukan sekadar keluhan, tetapi kerugian yang benar-benar kami alami," tegasnya. (sb/*)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard