Lewati ke konten utama
DPRD Kotawaringin Timur

Dewan Soroti Minimnya Minat Para Petani Muda, Ini Jadi Ancaman Petani Kotim

Redaksi 21-04-2025, 09:54 WIB 1 menit baca
Zainuddin
Zainuddin

SB, SAMPIT - Kurangnya minat generasi muda jadi petani menjadi sorotan Ketua Komisi 2 DPRD Kabupaten Kotim Zainuddin.

Ia menilai rendahnya minat generasi muda ini akan serius bagi keberlangsungan pertanian di masa depan.

“Sekarang ini, yang bertani itu rata-rata usianya sudah di atas 40 tahun. Hampir tidak ada yang usia 30-an. Kalau dibiarkan, suatu saat kita bisa kekurangan petani,” kata Zainuddin, Senin (21/4/2025).

Ia mencontohkan wilayah Desa Lampuyang khususnya dan Kecamatan Teluk Sampit umumnya, sebagai daerah sentra pertanian yang mulai kehilangan regenerasi petani.

Penyabab dari semua itu menurutnya, rendahnya pendapatan dari hasil bertani. Dengan hasil panen rata-rata hanya 4 ton per hektare dan harga jual sekitar Rp6.000 per kilogram, petani hanya mendapatkan sekitar Rp15 juta per tiga bulan setelah dikurangi biaya produksi.

“Capeknya bukan main, belum lagi kalau terserang hama. Karena itu anak-anak muda lebih memilih kerja di perkebunan,” ujarnya.

Zainuddin mendorong pemerintah daerah melalui dinas terkait agar serius mendorong lahirnya petani milenial.

Ia menyebut program Kementerian Pertanian terkait pertanian berbasis agrobisnis bisa menjadi solusi jika dijalankan dengan baik di daerah.

“2025 kita ditargetkan swasembada pangan. Tapi tanpa dukungan petani muda dan teknologi, ini sulit tercapai,” tegasnya.

Ia juga menambahkan pentingnya peningkatan kualitas SDM pertanian agar mampu memanfaatkan potensi lahan dan teknologi pertanian modern secara optimal.

“Indonesia ini subur, tapi butuh sentuhan teknologi dan semangat generasi muda untuk menggerakkan sektor pertanian ke arah yang lebih maju,” tutupnya. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard