Pulau Hanaut Krisis Kelistrikan, Pembangunan Tower PLN Ditarget Rampung 2026
SB, SAMPIT - Camat Pulau Hanaut, Fahrujiansyah, mengungkapkan bahwa kondisi kelistrikan di wilayahnya masih menjadi masalah serius dan berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat. Selain sering mengalami pemadaman hingga hitungan minggu, voltase listrik di Pulau Hanaut kerap turun drastis sehingga banyak peralatan elektronik tidak dapat berfungsi dengan semestinya.
Menurut Fahrujiansyah, gangguan kelistrikan ini dipengaruhi kondisi geografis wilayah Pulau Hanaut. Salah satu solusi yang tengah ditempuh adalah penguatan jaringan listrik melalui pembangunan tower oleh PLN. Ia menyampaikan bahwa pembangunan tower tersebut ditargetkan selesai paling lambat pertengahan 2026.
“Tapi tadi dalam rapat, jika pembangunan tower itu mulai dikerjakan, paling lama 3 bulan sudah selesai. Ini informasi menggembirakan yang akan saya sampaikan kepada masyarakat,” ujarnya, Senin (1/12/2025).
Fahrujiansyah mengungkapkan bahwa tegangan listrik di Pulau Hanaut sering drop hingga hanya berada di kisaran 160–165 volt, jauh di bawah standar normal 220 volt.
Ia menjelaskan bahwa jaringan lama yang berasal dari Seranau terlalu jauh dan kapasitas trafo tidak memadai. Karena itu, pembangunan tower baru menjadi solusi utama untuk meningkatkan stabilitas kelistrikan.
Rencana pembangunan tower baru PLN akan menghubungkan Bagendang, Pulau Lepeh, dan Desa Hanaut. Jika selesai, aliran listrik akan masuk langsung dari Bagendang, menggantikan jalur lama dari Seranau.
“Nanti jaringan dari Seranau diputus, sehingga aliran listrik otomatis dari Bagendang. Insyaallah nanti normal. Ke depan, rencana kabel juga akan menyeberang sampai Desa Hantipan hingga Mendawal dan Katingan,” jelasnya.
Selain stabilitas listrik, Fahrujiansyah menekankan perlunya percepatan bagi desa-desa yang belum teraliri listrik, seperti Dusun Andi Londo, Dusun Gerombol, Desa Bantian, dan Handil Mawar.
“Pulau Hanaut sudah terisolasi dari infrastruktur jalan, masa listrik juga tidak menikmati? Indonesia sudah 80 tahun merdeka. Kami tetap mengusulkan kebutuhan masyarakat dengan dukungan anggota DPRD Dapil 3,” katanya.
Rendahnya voltase listrik juga menghambat pelayanan publik. Salah satunya, rencana pembangunan mesin ATM Bank Kalteng di area Kantor Kecamatan belum bisa direalisasikan.
“Bank Kalteng sebenarnya setuju memasang ATM setelah survei. Tapi alat pemancar mereka butuh arus listrik yang benar-benar stabil. Karena listrik kita masih drop, ATM belum bisa dipasang. Kalau nanti normal, Insyaallah bisa terealisasi,” tambahnya.
Dengan adanya pembangunan tower baru serta komitmen PLN untuk mempercepat pekerjaan, Fahrujiansyah berharap masyarakat Pulau Hanaut segera menikmati listrik yang layak, stabil, dan aman, termasuk akses layanan perbankan yang lebih mudah. (f1/sb)