PGNI Peringati HUT ke-66, Dorong Edukasi Gizi dan Pencegahan Radikalisme di Sekolah
SB, SAMPIT - Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-66 Persatuan Gizi Nasional Indonesia (PGNI) Tahun 2026 diharapkan menjadi momentum penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya anak-anak, tentang pentingnya gizi seimbang dan pencegahan ekstremisme kekerasan sejak dini.
Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Bupati Kotim Irawati usai menghadiri pembukaan kegiatan HUT ke-66 PGNI yang diselenggarakan di SMP Negeri 2 Sampit, Kabupaten Kotim, Rabu (21/1/2026).
“HUT PGNI ke-66 tahun 2026 ini tadi bersama-sama kita saksikan dibuka oleh Persatuan Gizi Nasional Indonesia. Harapan saya, kegiatan ini dapat memberikan edukasi kepada anak-anak kita di masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur tentang bagaimana menjaga kesehatan gizi,” ujarnya.
Ia menegaskan, pemenuhan gizi yang baik sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak.
“Dengan adanya gizi yang baik, anak-anak kita dapat tumbuh sehat, cerdas, dan kuat. Ini tentu membantu ke depan agar mereka menjadi anak-anak yang hebat,” lanjutnya.
Selain edukasi gizi, kegiatan tersebut juga menyinggung pentingnya pemberian pemahaman kepada anak-anak terkait bahaya radikalisme kekerasan.
“Tadi juga disampaikan sedikit pemahaman tentang radikalisme kekerasan kepada anak-anak. Ini penting agar mereka tidak terpapar paham-paham yang menyimpang seperti yang sudah kita ketahui bersama,” katanya.
Untuk menindaklanjuti hal tersebut, pihaknya mengaku telah berkoordinasi dengan Bupati Kotim agar ke depan dapat diterbitkan peraturan bupati (Perbup) atau instruksi terkait pembatasan penggunaan gadget pada anak-anak.
“Saya sudah berkomunikasi dengan Pak Bupati agar ke depan bisa mengeluarkan perbup atau instruksi terkait pembatasan penggunaan gadget,” jelasnya.
Tak hanya itu, koordinasi juga dilakukan dengan pihak terkait dalam upaya pencegahan radikalisme.
“Saya juga sudah berkoordinasi dengan Pak Ganjar selaku Densus 88 yang membidangi pemahaman radikalisme di Kabupaten Kalimantan Tengah. Beliau menyatakan siap mendukung,” ungkapnya.
Menurutnya, dalam waktu dekat pihaknya akan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan untuk memberikan edukasi dan pemahaman tentang radikalisme kekerasan di lingkungan sekolah.
“Ke depan kami akan secepatnya bersama Dinas Pendidikan melakukan edukasi atau pemahaman tentang radikalisme kekerasan kepada anak-anak sekolah. Paling tidak kita bekerja sama dengan para guru dan pimpinan sekolah,” ujarnya.
Ia menambahkan, penggunaan gadget pada anak memang tidak bisa dihindari sepenuhnya, mengingat kebutuhan pembelajaran. Namun perlu adanya pembatasan yang jelas.
Ia mengatakan, selama ini ada anak-anak yang memang harus membawa gadget untuk mencari soal-soal pembelajaran.
Disinilah peran kita berikan pemahaman tentang pembatasan penggunaan gadget, terutama bagi anak-anak tingkat SD dan SMP. Untuk tahap awal, edukasi tersebut akan difokuskan di lingkungan sekolah.
“Saat ini fokusnya di sekolah dulu. Nantinya kita akan memanggil perwakilan wali kelas atau orang tua untuk ikut mendapatkan pengarahan tentang pemahaman radikalisme kekerasan pada anak-anak,” pungkasnya. (f1/SB)