Lewati ke konten utama
Kotawaringin Timur

Waspada DBD Selama Ramadan, Anak-anak Jadi Kelompok Rentan

Redaksi 06-03-2026, 11:10 WIB 2 menit baca
dr. Made Samitha Wijaya
dr. Made Samitha Wijaya

SB, SAMPIT – Menyambut bulan Ramadan, masyarakat diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit demam berdarah dengue (DBD), terutama pada anak-anak. Anak di bawah usia 12 tahun dinilai lebih rentan terserang DBD karena sistem kekebalan tubuh mereka belum optimal.

Dokter Anak RSUD dr. Murjani Sampit, dr. Made Samitha Wijaya, menjelaskan bahwa penyakit DBD dapat menyerang semua kelompok usia, tetapi anak-anak termasuk yang berisiko lebih tinggi.

“Kami mengingatkan para orang tua agar lebih waspada terhadap DBD pada anak, terutama selama Ramadan. Anak di bawah 12 tahun cenderung lebih rentan karena sistem imun mereka belum sekuat orang dewasa,” ujarnya, Jumat (6/3/2026).

Data Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya mencatat tujuh warga sempat dirawat karena demam dengan gejala mengarah ke DBD. Dari jumlah tersebut, tiga orang telah dipulangkan, satu dinyatakan positif DBD, sementara empat lainnya masih menjalani perawatan.

Gejala DBD pada anak biasanya diawali dengan demam tinggi mendadak hingga 39–40 derajat Celsius yang berlangsung dua hingga tiga hari pertama, kemudian menurun pada hari ketiga hingga ketujuh, yang merupakan fase kritis. Selain demam, anak dapat mengalami nyeri otot dan sendi, sakit kepala, nyeri di belakang mata, mual, muntah, nyeri perut, serta muncul ruam kemerahan di kulit.

dr. Made juga menekankan pentingnya mewaspadai tanda bahaya DBD, yang biasanya muncul pada hari ke-3 hingga ke-7. Tanda-tanda tersebut antara lain mimisan, gusi berdarah, bercak perdarahan pada kulit, tubuh lemah, gelisah, tangan dan kaki dingin, nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, hingga sesak napas.

“Jika tanda-tanda bahaya ini muncul, anak harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis,” tegasnya.

Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan melindungi anak dari gigitan nyamuk Aedes aegypti. Beberapa langkah yang disarankan antara lain, memasang kelambu pada tempat tidur atau kereta bayi, menggunakan losion antinyamuk yang aman untuk anak, mengenakan pakaian lengan panjang dan celana panjang saat di luar rumah, memasang kasa nyamuk pada ventilasi dan jendela, memberantas sarang nyamuk melalui gerakan 3M, dan menggunakan larvasida atau abate pada tempat penampungan air yang sulit dikuras.

Nyamuk Aedes aegypti aktif menggigit terutama pada pagi pukul 09.00-11.00 dan sore pukul 15.00–17.00, sehingga perlindungan ekstra perlu diberikan pada jam-jam tersebut. Lingkungan dengan genangan air bersih, rumah dengan ventilasi buruk, dan minim sinar matahari berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Selain itu, dr. Made menekankan pentingnya asupan gizi seimbang untuk menjaga daya tahan tubuh anak. “Anak dengan gizi buruk berisiko mengalami DBD yang lebih berat. Anak dengan obesitas juga perlu pemantauan khusus. Pastikan anak mendapatkan makanan bergizi seimbang,” pungkasnya. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard