Lewati ke konten utama
Kotawaringin Timur

Enam Tahun Terganggu Bau Sampah, SMPN 3 Sampit Minta Solusi Permanen dan Tegas

Redaksi 13-07-2026, 14:37 WIB 1 menit baca
Tanpak lokasi depo sampah yang membuat terganggu proses belajar siswa SMPN 3 Sampit akibat bau. (FOTO: SEPUTAR BORNEO)
Tanpak lokasi depo sampah yang membuat terganggu proses belajar siswa SMPN 3 Sampit akibat bau. (FOTO: SEPUTAR BORNEO)

SB, SAMPIT – Aktivitas belajar mengajar di SMP Negeri 3 Sampit hingga kini masih dibayangi bau menyengat yang berasal dari depo sampah di sekitar lingkungan sekolah. Kondisi yang berlangsung sejak 2020 itu dinilai mengganggu kenyamanan siswa dan guru, terutama saat proses pembongkaran sampah dilakukan pada pagi hari.

Kepala SMP Negeri 3 Sampit, Dra. Hj. Siti Hadijah, mengatakan bau paling menyengat muncul ketika truk sampah membongkar muatan bertepatan dengan jam masuk sekolah. Menurutnya, kondisi tersebut sudah bertahun-tahun dirasakan seluruh warga sekolah.

"Teman-teman bisa merasakan sendiri bagaimana kami harus berada di sekolah selama delapan jam dengan bau seperti ini. Inilah kondisi yang kami hadapi setiap hari," ujarnya, Senin (13/7/2026).

Ia menjelaskan, pihak sekolah telah berulang kali berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur agar ada solusi permanen. Sambil menunggu penyelesaian, sekolah berharap aktivitas pembongkaran dan pengangkutan sampah tidak lagi dilakukan saat proses belajar mengajar berlangsung.

"Kalau memang belum ada solusi permanen, setidaknya pembongkaran sampah jangan dilakukan saat jam pelajaran. Saat itulah aroma yang muncul sangat menyengat dan mengganggu kegiatan belajar," katanya.

L

Meski menghadapi persoalan tersebut, SMP Negeri 3 Sampit tetap mempertahankan prestasi dan kepercayaan masyarakat. Pada SPMB tahun ajaran 2026/2027, kuota 288 siswa terpenuhi setelah jumlah pendaftar mencapai sekitar 452 orang. Saat ini sekolah juga membina sekitar 896 siswa serta telah meraih berbagai prestasi, termasuk predikat Sekolah Adiwiyata Nasional.

Siti menambahkan, belum ada laporan gangguan kesehatan serius akibat bau sampah, namun siswa baru kerap mengeluhkan mual hingga muntah karena belum terbiasa.

"Kami tetap memberi semangat kepada anak-anak untuk terus berprestasi, tetapi kami berharap pemerintah segera menghadirkan solusi agar mereka bisa belajar di lingkungan yang sehat, nyaman, dan bebas dari bau sampah," pungkasnya. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard