Lewati ke konten utama
Provinsi

Kabut Asap Pekat Kepung Sampit, Jarak Pandang Hanya 100 Meter

Redaksi 18-09-2026, 13:09 WIB 2 menit baca
Tampak kondisi jarak pandang terhalang oleh kabut asap yang makin pekat. (FOTO:SEPUTAR BORNEO)
Tampak kondisi jarak pandang terhalang oleh kabut asap yang makin pekat. (FOTO:SEPUTAR BORNEO)

SB, SAMPIT - Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Jumat pagi (18/9/2026).

Kondisi tersebut membuat jarak pandang menurun drastis dan mengganggu aktivitas masyarakat. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H Asan Sampit, jarak pandang pada pukul 08.00 hingga 10.00 WIB hanya berkisar 100 meter.

Kabut asap juga disertai bau menyengat yang membuat mata perih dan napas terasa berat. Kondisi ini membuat pengendara harus meningkatkan kewaspadaan karena jarak pandang yang terbatas berpotensi membahayakan keselamatan di jalan.

“Kabut asap pagi ini lumayan tebal, berkendara terpaksa hati-hati, nggak berani ngebut, takut kecelakaan. Bau asapnya juga menyengat banget, padahal sudah pakai masker, sama mata juga terasa perih,” ucap Iyas, warga Sampit.

Tidak hanya mengganggu jarak pandang, kualitas udara di wilayah Kotim juga berada pada level yang mengkhawatirkan. Berdasarkan pemantauan aplikasi ISPU Net Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), indeks kualitas udara sempat mencapai 763 dan masuk kategori berbahaya.

Kondisi serupa juga dirasakan warga yang berada di dalam rumah. Kabut asap disebut masih dapat masuk ke permukiman, terutama saat kondisi angin relatif tenang.

“Asapnya pekat banget, bahkan sampai masuk ke dalam rumah. Saya lihat nggak terlalu ada angin, mungkin itu penyebabnya, makanya asapnya bertahan. Atau memang karena kebakarannya semakin parah, saya juga nggak tahu,” tutur Dani, warga Sampit.

Memasuki siang hari, kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah Kota Sampit. Paparan asap membuat aktivitas masyarakat di luar ruangan terganggu dan sebagian warga mengeluhkan dada terasa sesak setelah menghirup udara yang pekat.

Warga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker yang sesuai untuk perlindungan dari paparan partikulat, serta segera mendapatkan penanganan medis apabila mengalami gangguan pernapasan.

Masyarakat berharap hujan segera turun dengan intensitas cukup tinggi sehingga kebakaran hutan dan lahan dapat dipadamkan dan kabut asap yang menyelimuti Sampit segera berakhir. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard