Lewati ke konten utama
Pemkab Kotawaringin Timur

Bupati Kotim Kembali Salurkan Air Bersih 60 Ribu Liter ke Masyarakat

Redaksi 22-09-2026, 10:50 WIB 2 menit baca
Bupati Kotim, H Halikinnor memantau proses penyaluran air bersih. (FOTO: SEPUTAR BORNEO)
Bupati Kotim, H Halikinnor memantau proses penyaluran air bersih. (FOTO: SEPUTAR BORNEO)

SB, SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat di wilayah selatan, khususnya Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dan Teluk Sampit, yang terdampak kemarau berkepanjangan.

Penyaluran air bersih ini merupakan tindak lanjut dari distribusi sebelumnya sekaligus upaya pemerintah daerah memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi di tengah menurunnya ketersediaan air baku.

Sebelumnya, pada 17 September 2026, Pemkab Kotim telah menyalurkan sekitar 40 ribu liter air bersih ke sejumlah wilayah, di antaranya Desa Lempuyang, Sei Ijum, Sebamban dan Parebok. Bantuan tersebut didistribusikan menggunakan armada tangki dan profil tank dengan melibatkan berbagai pihak.

Seiring kondisi kemarau yang masih berlangsung, kebutuhan air bersih masyarakat terus dipantau. Untuk satu desa, kebutuhan air diperkirakan mencapai sekitar 60 ribu liter per hari, terutama wilayah dengan jumlah penerima mencapai sekitar 300 rumah.

Setiap rumah tangga mendapatkan jatah sekitar satu drum berkapasitas 220 liter. Pola tersebut diterapkan agar distribusi air dapat menjangkau masyarakat secara merata.

Bupati Kotim Halikinnor mengatakan pemerintah daerah akan terus melakukan penyaluran selama kondisi sumber air masyarakat belum kembali normal.

“Kurang lebih 60 ribu liter per hari kita salurkan untuk membantu kebutuhan masyarakat di wilayah selatan. Ini bagian dari upaya pemerintah daerah memastikan masyarakat tetap mendapatkan air bersih,” ujar Halikinnor, Senin (21/9/2026).

Menurutnya, krisis air bersih di wilayah selatan dipengaruhi menurunnya ketersediaan air baku serta masuknya air laut.

Kondisi tersebut menyebabkan sumber air menjadi payau hingga asin sehingga tidak dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kebutuhan sehari-hari.

Halikinnor juga meminta pemerintah desa aktif melaporkan kondisi ketersediaan air di wilayah masing-masing. Dengan laporan tersebut, pemerintah daerah dapat segera melakukan distribusi kembali ketika persediaan air warga mulai menipis.

“Kalau kondisi air masyarakat sudah mulai menipis, segera laporkan sehingga bisa kita tindak lanjuti dan distribusikan kembali,” katanya.

Pemkab Kotim memastikan penanganan krisis air bersih, bersamaan dengan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), akan terus menjadi perhatian pemerintah daerah selama kondisi kemarau masih berlangsung. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard