Lewati ke konten utama
Provinsi

Satgas Karhutla Kalteng Fokus Basahi Gambut dan Matikan Bara

Redaksi 23-09-2026, 11:21 WIB 2 menit baca
Kapolda Kalteng, Irjen Pol Iwan Kurniawan ketika memberikan pemaparan di hadapan menteri kehutanan. (FOTO: ISTIMEWA)
Kapolda Kalteng, Irjen Pol Iwan Kurniawan ketika memberikan pemaparan di hadapan menteri kehutanan. (FOTO: ISTIMEWA)

SB, PALANGKA RAYA – Pemadaman Karhutla di Kalteng kini memasuki tahap pembasahan lahan gambut. Meski kobaran api di permukaan hampir seluruhnya berhasil dikendalikan, petugas masih menghadapi bara yang bertahan di bawah permukaan tanah dan terus menghasilkan asap.

Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan mengatakan, kondisi lahan gambut membuat proses penanganan tidak berhenti setelah api di permukaan padam. Petugas harus memastikan bagian bawah lahan benar-benar basah agar bara tidak kembali menyala.

“Untuk sementara perlu kami informasikan bahwa titik api hampir bisa kita padamkan. Tinggal saat ini yang kita lakukan adalah melakukan pembasahan karena ini adalah lahan gambut,” ujar Iwan saat mengikuti dialog PrimeTime News bertajuk Stop Karhutla Kalteng, Cegah dan Tangani Bersama melalui Zoom, Selasa (22/9/2026).

Menurutnya, bara yang berada di bawah permukaan menjadi persoalan tersendiri dalam penanganan Karhutla. Api dapat tetap bertahan meskipun dari permukaan sudah tidak terlihat adanya kobaran.

“Walaupun api di atas sudah padam, masih ada api-api yang ada di bawah dan itu cukup banyak menghasilkan asap yang bisa berdampak kurang baik untuk kesehatan dan juga situasi lingkungan,” jelasnya.

Karena itu, petugas Satgas Karhutla masih berada di sejumlah lokasi untuk melakukan pembasahan. Air disalurkan ke area yang terbakar untuk menembus lapisan gambut dan mematikan bara yang masih tersimpan di bawah permukaan.

Pembasahan menjadi tahap penting untuk memastikan kebakaran benar-benar berhenti. Jika bara di bawah gambut tidak ditangani secara menyeluruh, api dapat kembali muncul ketika kondisi lahan mengering.

Iwan mengatakan, petugas juga terus melakukan pemantauan terhadap lokasi yang masih mengeluarkan asap. Penanganan dilakukan secara berkelanjutan agar bara yang terdeteksi dapat segera dibasahi dan tidak berkembang menjadi titik api baru.

Satgas Karhutla bekerja selama 24 jam dengan sistem pembagian tugas. Penanganan melibatkan TNI, Polri, Manggala Agni, pemerintah daerah dan masyarakat.

“Intinya, Satgas yang sudah dibentuk di Provinsi Kalteng ini bekerja bersama, bersinergi, berkolaborasi, dan sudah dibagi semua tugas-tugasnya, dan bekerja selama 24 jam,” tegasnya.

Kapolda menambahkan, penanganan di lapangan tidak hanya berorientasi pada pemadaman api. Kondisi lahan setelah api padam juga harus menjadi perhatian karena gambut yang masih menyimpan bara dapat kembali terbakar.

Untuk memperkuat penanganan ke depan, sejumlah sarana pendukung seperti kanal, embung dan sumur bor diperlukan di kawasan rawan Karhutla. Ketersediaan sumber air akan mempermudah petugas melakukan pembasahan ketika terjadi kebakaran maupun saat menangani bara yang tersisa.

Selain pemadaman dan pembasahan, pencegahan tetap dilakukan dengan melibatkan Bhabinkamtibmas, Babinsa, kepala desa dan unsur terkait untuk mengedukasi masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.

“Pembinaan masyarakat harus kuat sehingga memiliki kesadaran untuk tidak membakar lahan,” katanya.

Iwan menegaskan, masyarakat juga perlu diberikan solusi dalam membuka lahan tanpa menggunakan api. Pemerintah bersama seluruh stakeholder diharapkan dapat membantu menyediakan cara yang lebih aman agar pembakaran lahan tidak kembali menjadi pemicu Karhutla.

Dengan kondisi api permukaan yang hampir padam, perhatian Satgas kini tertuju pada pekerjaan yang tidak kalah penting, yakni memastikan bara di bawah gambut benar-benar mati melalui pembasahan. Langkah tersebut menjadi bagian penting untuk mengurangi asap sekaligus mencegah kebakaran kembali muncul. (sb/*)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard