Lewati ke konten utama
Provinsi

Pasca Pilrek, Prof Bhayu Rhama Ajak Bergandengan Tangan Bangun UPR Lebih Baik

Redaksi 04-10-2026, 16:43 WIB 3 menit baca
Pasca Pilrek, Prof Bhayu Rhama Ajak Bergandengan Tangan Bangun UPR Lebih Baik

SB, PALANGKA RAYA – Kontestasi Pemilihan Rektor (Pilrek) Universitas Palangka Raya (UPR) akhirnya tuntas. Prof. Dr. Bhayu Rhama, S.T., M.B.A., Ph.D memperoleh 37 suara, mengungguli dua calon rektor lainnya dalam proses pemilihan yang telah berlangsung.

Usai pemilihan, pesan yang disampaikan Prof Bhayu Rhama bukan hanya soal hasil kontestasi. Melalui kuasanya, Parlin B. Hutabarat, S.H., M.H., Prof Bhayu mengajak seluruh pihak untuk mengakhiri perbedaan akibat proses pemilihan dan kembali bergandengan tangan membangun UPR.

Ajakan tersebut dinilai penting agar seluruh civitas akademika dapat kembali fokus pada tujuan utama perguruan tinggi, yakni meningkatkan kualitas pendidikan dan membawa UPR semakin mampu bersaing dengan universitas lain di tingkat nasional.

“Intinya beliau mengajak semua pihak untuk bersama-sama membangun UPR lebih baik. Maka dari itu, beliau mengajak agar tidak ada lagi memberikan berita hoaks atau bohong. Kalau ada kritikan bersifat membangun itu bagus, namun harus sesuai kaidah-kaidahnya,” ucap Parlin kepada wartawan, Minggu (4/10/2026).

Parlin juga memastikan proses pemilihan rektor telah berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dalam proses tersebut, kata dia, turut hadir perwakilan dari kementerian yang membidangi pendidikan.

Sementara untuk tahapan berikutnya, yakni pelantikan rektor, Parlin menyebut kemungkinan besar akan dilaksanakan pada Senin, 5 Oktober 2026.

“Untuk pelantikan kemungkinan besar dilaksanakan besok atau 5 Oktober 2026. Untuk proses pemilihan sendiri sudah sesuai ketentuan dan pemilihan dihadiri dari perwakilan kementerian pendidikan,” jelasnya.

Setelah Pilrek berakhir, Parlin berharap tidak ada lagi narasi pemberitaan yang menurut pihaknya bersifat bohong, hoaks, maupun fitnah yang dapat merusak nama baik Prof Bhayu Rhama.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak semata-mata menyangkut pribadi calon rektor. Lebih jauh, pemberitaan yang tidak berdasarkan fakta dinilai dapat berdampak terhadap citra UPR sebagai institusi pendidikan di Kalimantan Tengah.

“Sebab ini menyangkut kredibilitas lembaga pendidikan di Kalimantan Tengah. Ini tidak menyangkut nama rektor, tetapi civitas akademik, yang dapat mengganggu pendidikan di Kalteng,” tegas Parlin.

Ia menegaskan, kritik terhadap pimpinan maupun institusi tetap dibutuhkan. Namun, kritik harus disampaikan secara konstruktif dan berdasarkan kaidah serta fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan demikian, ruang kritik tetap terbuka, tetapi bukan dalam bentuk informasi yang dinilai dapat menyesatkan masyarakat atau merusak nama baik seseorang.

Parlin juga mengungkapkan bahwa pihaknya telah membuat tiga laporan terkait dugaan serangan pemberitaan yang dinilai mengandung fitnah dan merusak nama baik kliennya.

“Selama ini tidak ada pengaduan atau laporan dari hasil penelusuran. Ada tiga laporan yang sudah kita laporkan, kemungkinan setelah pelantikan akan kita telusuri atas laporan itu,” katanya.

Ia menyebut pihaknya akan kembali menelusuri perkembangan laporan tersebut setelah agenda pelantikan selesai.

Meski demikian, Parlin menegaskan bahwa Prof Bhayu Rhama tetap membuka pintu bagi siapa saja yang ingin memberikan masukan.

Menurutnya, saran dan kritik tetap diperlukan selama bertujuan membangun dan disampaikan secara proporsional.

“Intinya Prof Bhayu terbuka dengan siapa saja untuk memberikan saran dan kritik bersifat membangun. Juga mengajak bersama-sama untuk membangun UPR,” tegasnya.

Berakhirnya Pilrek UPR menjadi momentum untuk meninggalkan perbedaan yang muncul selama proses pemilihan. Seluruh elemen kampus diharapkan kembali bersatu dan bekerja bersama untuk meningkatkan kualitas UPR.

Pesan yang dibawa Prof Bhayu melalui kuasanya pun jelas, kontestasi telah selesai, kini waktunya membangun UPR bersama.

Dengan semangat tersebut, UPR diharapkan tidak hanya mampu menjaga kualitas akademik, tetapi juga semakin berkembang dan memiliki daya saing dengan perguruan tinggi lainnya di tingkat nasional. (sb/*)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard