Lewati ke konten utama
Pemkab Kotawaringin Timur

Kabut Asap dan Kekeringan Mengancam, Dinkes Kotim Siagakan Rumah Oksigen 24 Jam

Redaksi 13-10-2026, 16:53 WIB 2 menit baca
Kadinkes Kotim, Umar Kaderi
Kadinkes Kotim, Umar Kaderi

SB, SAMPIT – Ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan mulai menjadi perhatian serius sektor kesehatan di Kotawaringin Timur (Kotim).

Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mengantisipasi potensi lonjakan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga diare akibat memburuknya kondisi lingkungan.

Kepala Dinkes Kotim, Umar Kaderi, mengatakan pihaknya telah menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapi kemungkinan meningkatnya jumlah warga yang mengalami gangguan kesehatan. Pelayanan kesehatan disiagakan selama 24 jam, didukung ketersediaan oksigen, obat-obatan, tenaga medis, serta rumah oksigen bagi masyarakat yang membutuhkan.

“Kami dari Dinas Kesehatan sudah mengantisipasi kemungkinan terjadinya kondisi darurat seperti ini. Seluruh persiapan sudah dilakukan, termasuk pelayanan selama 24 jam, penyediaan oksigen, obat-obatan, tenaga kesehatan, serta rumah oksigen,” kata Umar, Selasa (13/10/2026).

Menurutnya, dampak karhutla tidak hanya dirasakan melalui kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berpotensi meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Di sisi lain, kekeringan yang menyebabkan air sungai menjadi payau turut menjadi perhatian karena kondisi air yang tidak layak dikonsumsi dapat meningkatkan risiko diare.

Dinkes Kotim juga telah menyiapkan rumah oksigen untuk membantu warga yang mengalami sesak napas atau membutuhkan bantuan oksigen. Fasilitas tersebut bahkan sudah didatangi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan.

“Pelayanan sudah siap. Bahkan, sudah ada masyarakat yang datang untuk mendapatkan bantuan oksigen. Jika pasien membutuhkan penanganan lebih lanjut, akan dirujuk ke rumah sakit,” jelasnya.

Umar mengingatkan, kelompok lanjut usia (lansia) dan masyarakat yang memiliki penyakit penyerta menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih. Paparan asap berpotensi memperburuk kondisi warga yang memiliki riwayat asma, gangguan paru-paru, maupun penyakit jantung.

“Yang kami khawatirkan adalah masyarakat pralanjut usia dan lansia yang memiliki penyakit penyerta, seperti gangguan jantung dan paru-paru. Kondisi mereka bisa memburuk ketika terpapar kabut asap,” tegasnya.

Meski kasus ISPA dapat terjadi sepanjang tahun, kondisi lingkungan akibat karhutla berpotensi menambah beban pelayanan kesehatan apabila jumlah pasien meningkat. Umar menyebutkan, hingga saat ini pasien dengan gangguan kesehatan masih dapat ditangani di puskesmas dan belum dilaporkan adanya pasien meninggal dunia akibat kondisi tersebut.

Dinkes Kotim mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah selama kabut asap masih pekat. Jika terpaksa beraktivitas di luar ruangan, warga disarankan menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel asap. Masyarakat juga diminta memperhatikan kualitas air yang digunakan untuk minum dan kebutuhan sehari-hari guna mengurangi risiko diare.

Di tengah karhutla dan kekeringan yang masih mengancam, kesiapsiagaan layanan kesehatan menjadi penting agar dampak terhadap masyarakat dapat ditekan. Warga yang mengalami sesak napas, kesulitan bernapas, atau gejala berat lainnya diimbau segera mencari pertolongan medis. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard