BPBD Kotim Ungkap Data Bencana Selama Tahun 2025
SB, SAMPIT- Sepanjang tahun 2025 di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tidak lepas dari berbagai peristiwa bencana, mulai dari kebakaran hutan dan lahan, banjir, cuaca ekstrem, hingga kejadian pencarian dan pertolongan (SAR) yang menelan korban jiwa tercatat hampir merata di sejumlah kecamatan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Multazam, menyampaikan rekapitulasi bencana ini dihimpun sejak 1 Januari 2025 hingga 30 Desember 2025 sebagai bahan evaluasi dan perencanaan penanggulangan bencana Tahun 2026.
"Sepanjang 2025, kami melihat dinamika bencana yang cukup kompleks. Faktor cuaca dan aktivitas manusia masih menjadi penyebab utama terjadinya berbagai kejadian," kata Multazam, pada Kamis (1/1/2026).
Dalam catatan BPBD Kotim, kejadian SAR menjadi salah satu peristiwa yang paling menyita perhatian karena melibatkan korban meninggal dunia.
Sejumlah kecamatan mencatat insiden dengan korban jiwa yang tidak sedikit.
Kecamatan Teluk Sampit tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kejadian SAR terbanyak, yakni tiga kejadian dengan lima orang korban meninggal dunia.
Sementara Kecamatan Mentaya Hulu Utara mencatat satu kejadian SAR dengan dua korban meninggal dunia.
Selain itu, masing-masing satu kejadian SAR juga terjadi di Kecamatan Pulau Hanaut, Cempaga Hulu, Cempaga, dan Kota Besi, dengan masing-masing satu korban meninggal dunia.
"Data ini menjadi peringatan penting agar masyarakat lebih waspada terhadap potensi risiko di lingkungannya," ujarnya.
Sementara itu, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi bencana dominan di Kotim.
BPBD mencatat Kecamatan Mentawa Baru Ketapang sebagai wilayah dengan jumlah kejadian karhutla tertinggi, yakni 17 kejadian sepanjang tahun 2025.
Disusul Kecamatan Baamang dengan delapan kejadian, Mentaya Hilir Selatan tiga kejadian, Seranau dua kejadian, serta masing-masing satu kejadian di Kecamatan Cempaga, Pulau Hanaut, Kota Besi, Teluk Sampit, Mentaya Hilir Utara, dan Parenggean.
"Karhutla umumnya terjadi saat musim kemarau dan sebagian besar dipicu oleh aktivitas manusia yang kurang memperhatikan dampak lingkungan," jelas Multazam.
Selain karhutla, cuaca ekstrem juga kerap melanda wilayah Kotim.
Kecamatan Mentawa Baru Ketapang kembali mencatat angka tertinggi dengan 14 kejadian cuaca ekstrem, seperti angin kencang dan hujan lebat.
Kecamatan Baamang mengalami enam kejadian, Kota Besi tiga kejadian, Cempaga Hulu dua kejadian, dan Mentaya Hilir Selatan satu kejadian cuaca ekstrem.
Sejumlah rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan akibat peristiwa tersebut.
Bencana banjir pun menjadi ancaman tahunan yang tidak bisa dihindari.
Kecamatan Bukit Santuai mencatat delapan kejadian banjir sepanjang 2025, diikuti Kecamatan Tualan Hulu dengan tujuh kejadian dan Telaga Antang sebanyak lima kejadian.
Selanjutnya, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan juga mengalami lima kejadian banjir, Cempaga Hulu empat kejadian, Parenggean tiga kejadian, serta Talawang, Baamang, Antang Kalang, dan Pulau Hanaut masing-masing dua kejadian banjir.
Adapun satu kejadian banjir masing-masing tercatat di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Teluk Sampit, Kota Besi, dan Mentaya Hulu.
Mayoritas banjir dipicu oleh intensitas hujan tinggi yang menyebabkan luapan sungai.
BPBD Kotim menilai data rekapitulasi ini menjadi dasar penting untuk memperkuat langkah mitigasi bencana dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat di tahun-tahun mendatang.
"Kami berharap masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan dan selalu siap menghadapi potensi bencana, karena kondisi alam semakin sulit diprediksi," tutup Multazam. (f1/sb)