Lewati ke konten utama
Pemkab Kotawaringin Timur

Maling Besi dan Kendaraan Over Tonase Jadi Ancaman Jembatan Kapten Mulyono

Redaksi 22-01-2026, 08:58 WIB 2 menit baca
Pemkab Kotim ketika melakukan pemeliharaan Jembatan Kapten Mulyono. (FOTO: SEPUTAR BORNEO)
Pemkab Kotim ketika melakukan pemeliharaan Jembatan Kapten Mulyono. (FOTO: SEPUTAR BORNEO)

SB, SAMPIT - Pemkab Kotim melalui Dinas SDAMBBKPRKP Kotim akan terus lakukan pemeliharaan infrastruktur secara situasional, terutama jika kondisi kerusakan dinilai membahayakan keselamatan masyarakat.

Meski masa pemeliharaan hanya berlangsung singkat, perbaikan tetap dilakukan apabila tingkat kerusakan sudah parah.

Pengawas jalan dan jembatan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD), Alfian, menegaskan bahwa prioritas utama adalah titik-titik yang berpotensi membahayakan pengguna jalan salah satunya Jembatan Kapten Mulyono yang saat ini tengah dilakukan pemeliharaan.

Meskipun diakui pelaksanaan pekerjaan harus menyesuaikan dengan pembagian waktu dan kondisi di lapangan.

Terkait pelat besi yang sempat hilang di jembatan tersebut pihaknya membenarkan bahwa pada rentang waktu 2025 memang pernah terjadi kehilangan satu lembar pelat besi.

Pelat tersebut diketahui sempat bergeser hingga sekitar 100 meter dari titik awal sebelum akhirnya berhasil diamankan kembali.

“Untuk periode 2025 kemarin memang ada satu lembar plat yang bergeser jauh, tapi sudah kami ambil dan pasang kembali. Untuk yang terakhir ini, aman,” ujarnya, Kamis (22/1/2026).

Secara keseluruhan, jumlah pelat besi yang terpasang di lokasi tersebut sekitar 20 lembar. Seluruh pelat yang sebelumnya hilang juga telah diganti, sehingga saat ini kondisi dinyatakan aman dan layak digunakan masyarakat.

Adapun penyebab utama kerusakan jembatan disebut berasal dari kendaraan dengan muatan berlebih.

“Penyebab paling tinggi itu karena mobilitas angkutan yang melebihi tonasi. Banyak kendaraan bermuatan besar yang lewat di sini,” jelasnya.

Padahal, sesuai ketentuan, jembatan tersebut hanya mampu menampung beban maksimal 12 ton.

“Ketentuannya maksimal 12 ton sudah dengan muatan. Kalau kendaraan berat sampai 35 ton masih lewat, itu jelas tidak memungkinkan untuk jangka panjang,” katanya.

Ia menegaskan, jika jembatan hanya dilalui kendaraan pribadi dan sesuai tonase, maka hasil pemeliharaan bisa bertahan lama.

“Kalau hanya kendaraan pribadi, seharusnya bisa jangka panjang,” ujarnya.

Terkait potensi pemeliharaan ulang, pihaknya akan menyesuaikan dengan kondisi lapangan.

“Tergantung situasi. Kalau sudah membahayakan, mau tidak mau harus dipelihara lagi, bahkan kalau baru satu bulan,” pungkasnya. (f1/SB)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard