Kelangkaan Pupuk Subsidi, Petani Lampuyang Ancam Berpindah ke Kelapa Sawit
SB, SAMPIT – Kelangkaan pupuk subsidi kembali memicu kemarahan petani di Desa Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Warga bahkan mengancam akan meninggalkan tanaman padi dan beralih menanam kelapa sawit jika persoalan pupuk terus berulang.
Aksi protes tersebut terekam dalam video berdurasi 2 menit 42 detik yang beredar luas di media sosial. Dalam video itu, sejumlah petani mendatangi salah satu kios pupuk di Jalan Seranggas RT 7, Selasa (27/1/2026).
Gudang pupuk yang selama ini menjadi tumpuan petani dinilai tidak mampu memenuhi kebutuhan. Kondisi itu membuat petani khawatir terancam gagal panen.
“Permasalahan ini sudah lama,” ujar salah seorang petani dengan nada tinggi dalam video tersebut.
Warga mempertanyakan penyaluran pupuk subsidi dari pemerintah yang dinilai tidak tepat sasaran. Mereka menduga pupuk subsidi yang seharusnya diperuntukkan bagi petani padi justru mengalir ke perkebunan kelapa sawit.
Kekecewaan petani semakin memuncak karena stok pupuk di kios cepat habis, bahkan hanya dalam waktu satu hingga dua hari. Padahal, luas lahan pertanian di wilayah tersebut mencapai ribuan hektare.
“Pupuk turun sekian, tapi habisnya cepat sekali. Ke mana pupuknya?” teriak seorang petani.
Dalam video tersebut, suasana sempat memanas. Seorang pria mengenakan kaos hitam tanpa lengan terlihat memukul bagian depan kios sebagai luapan emosi, sebelum akhirnya ditenangkan oleh warga lainnya.
Sementara itu, pria yang diduga pemilik kios berusaha menjelaskan bahwa penyaluran pupuk subsidi memiliki aturan yang ketat.
“Izin pak, pian berapa sak biar kita data. Soalnya ini ada aturannya,” ucapnya.
Namun, penjelasan tersebut justru memicu kemarahan warga. Seorang petani berbaju krem dan mengenakan topi hitam bahkan melontarkan ancaman akan mengganti tanaman padinya dengan kelapa sawit.
“Kalau begini terus, lebih baik kami tanam sawit saja,” katanya lantang.
Ancaman itu dilontarkan karena petani menilai bertani padi semakin sulit di tengah keterbatasan pupuk, sementara kebutuhan hidup harus tetap dipenuhi.
“Kami makan dari mana kalau pupuk saja susah?” keluh seorang petani lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari dinas terkait mengenai dugaan penyelewengan pupuk subsidi tersebut.
Warga berharap pemerintah segera turun tangan agar persoalan pupuk tidak terus berulang dan pertanian padi di Desa Lampuyang tidak benar-benar ditinggalkan. (f1/SB)