Lewati ke konten utama
Pemkab Kotawaringin Timur

Hadapi Persaingan Online, Pasar Tradisional Diminta Berinovasi

Redaksi 16-02-2026, 01:40 WIB 2 menit baca
Tampak kondisi PPM Sampit
Tampak kondisi PPM Sampit

SB, SAMPIT - Staf Ahli Bupati Kotim Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Sekretariat Daerah (Setda) Kotawaringin Timur (Kotim) Rafiq Riswandi, mendorong pasar tradisional untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital agar mampu bersaing dengan pasar modern dan platform online.

Menurut Rafiq, perubahan pola transaksi dari sistem konvensional ke digital merupakan keniscayaan yang harus diikuti oleh para pedagang.

“Sekarang ini dengan perkembangan zaman dan teknologi digital, perdagangan tidak lagi menggunakan sistem konvensional. Sudah beralih ke sistem digital. Gelombang perubahan seperti ini harus bisa kita ikuti,” kata Rafiq, Senin (16/2/2026).

Ia menilai, kehadiran pasar online menjadi tantangan serius bagi pasar tradisional. Karena itu, pasar konvensional harus mampu berinovasi agar tetap diminati masyarakat.

“Pasar-pasar tradisional harus bisa berinovasi dan bergerak cepat seperti pasar yang sifatnya online. Kalau tidak, tentu daya saingnya akan semakin berat,” katanya.

Meski demikian, Rafiq menegaskan pasar tradisional memiliki sejumlah keunggulan yang tidak dimiliki pasar online. Di antaranya interaksi langsung antara penjual dan pembeli, serta kemampuan konsumen untuk melihat dan mengecek barang secara langsung.

“Di pasar tradisional ada tatap muka antara pembeli dan penjual. Pembeli bisa langsung melihat barang, memilih kualitasnya, bahkan mencoba atau memastikan ukuran produk. Kalau online kan masih ada unsur spekulasi,” jelasnya.

Keunggulan tersebut, lanjutnya, harus dimanfaatkan sebagai kekuatan utama, sekaligus dikombinasikan dengan sistem penjualan berbasis digital.

Rafiq mengungkapkan, pihaknya bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) serta UMKM akan berkoordinasi dengan pengurus Pasar PPM untuk menyiapkan konsep penjualan online bagi pedagang pasar.

“Nanti kita komunikasikan dengan para pedagang dan dinas teknisnya, bagaimana memanfaatkan ruang-ruang yang belum digunakan untuk dijadikan studio. Dari situ pedagang bisa mempromosikan produk secara live, melakukan video call, atau siaran langsung agar pembeli bisa melihat barang secara real time,” terangnya.

Dengan konsep tersebut, pedagang bisa berjualan secara konvensional sekaligus online dalam waktu bersamaan.

“Artinya dua sisi. Bisa berjualan langsung di pasar, tapi juga bisa menjual secara online. Berbeda dengan penjualan online yang hanya berada di satu sisi saja,” tambahnya.

Terkait kesiapan pedagang, Rafiq mengakui masih ada keterbatasan dalam penguasaan teknologi. Oleh karena itu, pemerintah daerah akan mengkaji dukungan sarana dan prasarana yang diperlukan.

“Kita lihat dulu kelemahannya apa. Kalau dari sisi teknologi belum menguasai, nanti kita diskusikan apakah pemerintah daerah menyiapkan peralatan studio, termasuk operatornya. Apakah dari Perindag atau kita manfaatkan pedagang yang ada,” ujarnya.

Ia juga membuka peluang melibatkan generasi muda untuk mendukung transformasi digital di pasar tradisional.

“Kalau pedagang belum memahami teknologi, kita bisa manfaatkan anak-anak mudanya. Generasi Z ini kan teknologi bukan hal asing bagi mereka. Mudah-mudahan semuanya bisa berjalan sesuai harapan,” pungkasnya. (f1/SB)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard